KUPANG — Tiga lembaga berbeda latar belakang — pemerintah, forum lintas agama, dan organisasi kepanduan — sepakat berkolaborasi menanamkan nilai toleransi sekaligus kepedulian terhadap alam. Kepala Kanwil Kemenag NTT Fransiskus Kariyanto menyebut moderasi beragama dan ekoteologi sebagai dua agenda yang saling terkait.
"Nilai-nilai agama mengajarkan kita untuk hidup rukun sekaligus menjaga dan merawat ciptaan Tuhan," kata Fransiskus di Kupang, Sabtu.
Menurutnya, kolaborasi dengan FKUB dan Pramuka menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai itu kepada masyarakat, terutama generasi muda. Pertemuan yang digelar membahas langkah-langkah konkret lintas sektor.
Ketua FKUB Provinsi NTT Yuliana Saloso mengatakan pihaknya selama ini berkomitmen menghadirkan ruang perjumpaan yang inklusif bagi semua umat beragama. Dialog dan kebersamaan, kata dia, menjadi modal utama merawat kerukunan di tengah kemajemukan masyarakat NTT.
"Moderasi beragama tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dihidupi melalui perjumpaan, kerja sama, dan aksi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas," ujarnya.
Salah satu wujud konkret yang sudah berjalan adalah Gerakan Tanam Sejuta Pohon. Program ini melibatkan tokoh dan umat dari berbagai agama untuk bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama. Yuliana menyebut merawat lingkungan sebagai panggilan moral sekaligus panggilan iman.
Ketua Kwarda Gerakan Pramuka NTT Sinun Petrus Manuk menyatakan kesiapan organisasinya menjadi mitra strategis. Menurutnya, nilai kebangsaan, persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan yang sudah menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan sejalan dengan semangat moderasi beragama dan pelestarian alam.
"Pramuka adalah rumah bersama bagi anak-anak dan generasi muda dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya," kata Sinun.
Lewat kegiatan perkemahan lintas agama, bakti sosial, dan gerakan penanaman pohon, ia ingin menanamkan bahwa perbedaan adalah kekuatan dan menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kwarda Pramuka NTT berencana mengintegrasikan agenda moderasi beragama dan ekoteologi ke dalam berbagai kegiatan pembinaan kepramukaan.
Kolaborasi ini diharapkan melahirkan generasi muda yang toleran, berkarakter, dan peduli terhadap kelestarian alam di Nusa Tenggara Timur.