Seleksi yang digelar selama dua hari ini menyasar tiga kelompok usia. Koordinator tim seleksi Garudayaksa FC Zona NTT, Fhyto Francis, yang juga manajer Bintang Timur Atambua (BeTA), merinci kategori tersebut: usia 16 tahun (kelahiran 2010-2011), usia 18 tahun (kelahiran 2008-2009), dan usia 20 tahun (kelahiran 2006-2007). Seluruh proses seleksi tidak dipungut biaya alias gratis.
Fhyto menekankan bahwa klub tidak hanya mencari pemain dengan teknik dasar terbaik saat ini. Garudayaksa mengincar talenta yang bisa berkembang dalam tiga hingga lima tahun ke depan dan memiliki karakter kuat, baik di dalam maupun luar lapangan.
“Prinsip utama seleksi adalah jangan hanya memilih pemain yang paling hebat saat ini, tetapi pilih pemain yang memiliki potensi terbesar untuk menjadi pemain profesional dan memperkuat Timnas Indonesia di masa depan,” ujar Fhyto di Kupang, Rabu.
Pemilihan NTT sebagai lokasi seleksi bukan tanpa alasan. Menurut Fhyto, provinsi berbasis kepulauan ini memiliki banyak pemain potensial yang belum tersentuh pembinaan dari akademi-akademi elite nasional. Dengan membuka seleksi langsung di Kupang, Garudayaksa berharap bisa menjaring bakat-bakat yang selama ini terkendala akses geografis menuju pusat pembinaan sepak bola di Jawa atau Sumatera.
Proses seleksi yang diinisiasi Garudayaksa FC mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Kupang. Wakil Wali Kota Kupang, Serena C Francis, disebut memberikan dukungan langsung terhadap kegiatan ini. Fhyto pun meminta para pesepak bola muda di NTT yang berminat untuk segera mempersiapkan diri dan hadir di Stadion Oepoi pada tanggal yang telah ditentukan.