Kemenko Pangan dan BPOLBF Tanam 7 Jenis Buah Premium di Parapuar untuk Wujudkan Food Forest Kawasan Wisata Labuan Bajo

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 16:52:31 WIB
Tujuh jenis buah premium ditanam secara simbolis di kawasan wisata Parapuar, Labuan Bajo, sebagai wujud implementasi konsep food forest.

LABUAN BAJO — Kawasan wisata Parapuar di Labuan Bajo tidak hanya akan menjadi tujuan wisata, tetapi juga sumber pangan. Tujuh jenis tanaman buah premium seperti mangga Miyazaki, Nam Dok Mai, Agrimania, Kiojay, jambu Black Diamond, alpukat Aligator Jumbo, dan sawo Jumbo Thailand kini mulai ditanam di kawasan tersebut sebagai wujud nyata konsep food forest.

Penanaman simbolis dilakukan sebelum acara Sunset Dialogue bertema "Food Forest dari Lanskap Wisata Menuju Lanskap Ketahanan Pangan" digelar di Natas Parapuar. Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja monitoring implementasi ketahanan pangan daerah yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas masyarakat.

Mengapa Food Forest Menjadi Kunci Pariwisata Berkelanjutan?

Sekretaris Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dirhansyah Conbul, menegaskan bahwa setiap program pemerintah harus berujung pada manfaat nyata di tingkat tapak. Ia menilai pengembangan pangan lokal berbasis hutan dapat menjadi sumber pendapatan baru yang berjalan berdampingan dengan sektor pariwisata.

"Apapun yang kita lakukan dalam program pemerintah utamanya harus memberikan manfaat bagi masyarakat secara lebih luas di tingkat tapak. Masyarakat Kabupaten Manggarai Barat harus mendapatkan manfaat langsung dari upaya mengangkat pangan lokal berbasis hutan menjadi sumber pendapatan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat," kata Dirhansyah dalam keterangan yang diterima di Labuan Bajo, Jumat.

Parapuar: Perpaduan Konservasi Alam dan Pemberdayaan Ekonomi Warga

Pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, menjelaskan bahwa kawasan Parapuar dikembangkan dengan konsep Ethno-Eco-Edu-Culture-Nature Conservation. Konsep ini menggabungkan pelestarian alam, penguatan budaya, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kesatuan kawasan.

"Melalui konsep food forest, kita menghubungkan pengembangan destinasi dengan ketahanan pangan sehingga pelestarian lingkungan, pemanfaatan pangan lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara beriringan. Inilah wujud pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Andhy saat dihubungi dari Kupang.

Kawasan ini diharapkan tidak sekadar menghadirkan pengalaman wisata bagi pengunjung. Lebih dari itu, Parapuar dirancang sebagai ruang konservasi, sumber pangan lokal, sarana edukasi, dan penggerak ekonomi masyarakat Manggarai Barat.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan Daerah

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Manggarai Barat, peserta Floratama Academy 2026, pelaku UMKM, serta perwakilan Persemaian Modern Satar Kodi.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, konsep food forest di Parapuar diharapkan menjadi model pengembangan destinasi wisata yang produktif dan tangguh. Keberadaan kawasan ini juga menjadi bukti bahwa pembangunan pariwisata di Labuan Bajo tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top