Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang memperkuat pengendalian populasi hewan pembawa rabies melalui sterilisasi massal dan vaksinasi untuk menekan risiko penyebaran rabies di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan bertajuk World Rabies Day NTT Better Animal Welfare Healthier Communities NTT Program 2026 berlangsung pada 17-19 September 2026 di Kota Kupang dengan menyasar sekitar 80 ekor anjing dan kucing. Kolaborasi ini melibatkan FKKH Undana, PDHI Cabang NTT, RSHP Undana, dan JAAN Domestic Indonesia.
KUPANG — Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana Kupang menggelar sterilisasi massal bagi 80 ekor anjing dan kucing selama tiga hari, 17-19 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari World Rabies Day NTT Better Animal Welfare Healthier Communities NTT Program 2026.
Dekan FKKH Undana Christina Olly Lada menyatakan pengendalian populasi hewan pembawa rabies perlu dijalankan bersama vaksinasi dan edukasi masyarakat. Menurutnya, pendekatan tunggal berupa vaksin saja tidak cukup karena terkendala keterbatasan dana.
"Sasarannya adalah hewan pembawa rabies, supaya kita bisa mengendalikan populasinya. Karena kalau misalnya kita hanya mengharapkan vaksin saja, tentunya ada keterbatasan dana," kata Christina di Kupang.
Christina menjelaskan anjing, kucing, dan monyet merupakan inang bagi virus rabies. Pengendalian jumlah ketiga jenis hewan itu dinilai menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyebaran penyakit tersebut.
Program sterilisasi massal ini melibatkan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTT, Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Undana, serta Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Domestic Indonesia. Kolaborasi tersebut menyatukan tenaga akademisi, dokter hewan, dan organisasi kesejahteraan hewan.
Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) disebut sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih. Berdasarkan laporan yang diterima Christina, jumlah kasus gigitan dan kematian akibat rabies di daerah itu masih tinggi.
Meski demikian, kesadaran warga dalam menangani kasus gigitan mulai meningkat. Warga yang mengalami gigitan kini lebih cepat membawa korban ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan.
"Ini artinya hasil dari edukasi dan sosialisasi itu juga sudah semakin berdampak kepada masyarakat," ujar Christina.
Chief Operating Officer JAAN Domestic Indonesia Merry Ferdinandez menyebut kampanye tahun ini mengusung tema "Stronger Together". Sterilisasi massal dipilih sebagai salah satu intervensi untuk mendukung pengelolaan populasi anjing dan kucing secara berkelanjutan.
Layanan sterilisasi menyasar hewan peliharaan masyarakat dan disertai edukasi mengenai kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, kesehatan dan kesejahteraan hewan, serta pencegahan rabies.
"Program kali ini menyasar hewan peliharaan masyarakat melalui layanan sterilisasi yang disertai edukasi mengenai kepemilikan hewan yang bertanggung jawab, kesehatan dan kesejahteraan hewan, serta pencegahan rabies," ujar Merry.
Christina menyatakan program pengendalian populasi melalui sterilisasi massal akan dievaluasi untuk melihat kemungkinan diterapkan di kabupaten lain di NTT. Ia berharap kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, akademisi, dokter hewan, organisasi kesejahteraan hewan, dan masyarakat dapat mendukung upaya NTT bebas rabies.