NUSA TENGGARA TIMUR — Minyak pemanas rumah secara kimia nyaris identik dengan solar, sehingga sebagian pemilik truk diesel tergoda memakainya saat harga BBM melonjak. Perbedaan paling kasat mata justru disengaja: minyak pemanas diberi pewarna merah untuk mencegah penyalahgunaan. Memakainya di kendaraan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga berisiko menguras pasokan pemanas rumah saat musim dingin.
Harga solar di sejumlah negara melonjak tajam, bahkan sebagian stasiun pengisian dilaporkan kehabisan stok. Kondisi itu memicu pertanyaan di kalangan pemilik truk diesel: apakah ada bahan bakar alternatif yang lebih murah? Jawabannya teknis bisa, tetapi praktiknya sebaiknya tidak dilakukan.
Minyak pemanas rumah dan solar memiliki fungsi yang sama di mata mesin diesel. Keduanya akan terbakar dan menggerakkan kendaraan. Perbedaannya terletak pada aditif dan kandungan sulfur, yang menurut sejumlah catatan teknis tidak terlalu berpengaruh pada fungsi dasar pembakaran mesin.
Beberapa aditif solar memang dirancang menjaga kesehatan mesin dalam pemakaian jarak jauh. Meski begitu, untuk sekadar membuat mesin menyala dan kendaraan berjalan, aditif tersebut bukan syarat mutlak. Secara fungsi dasar, minyak pemanas rumah bisa membakar di dalam mesin diesel.
Perbedaan yang paling mencolok justru bukan soal performa, melainkan warna. Minyak pemanas rumah diberi pewarna merah dengan sengaja.
Pewarna merah pada minyak pemanas berfungsi mencegah pengemudi truk menghindari pajak bahan bakar. Petugas berwenang dapat memeriksa warna bahan bakar di tangki dan menindak pelanggar yang membeli minyak pemanas lebih murah.
Pertanyaannya, apakah petugas bersedia memeriksa tangki setiap kendaraan yang melintas? Secara teknis, mereka bisa. Pengawasan tidak perlu menjaring semua pelanggar untuk membuat efek jera.
Saat solar semakin langka dan mahal, harga minyak pemanas rumah belum sepenuhnya menyusul. Harganya memang naik di atas level normal, tetapi umumnya masih lebih murah dibanding harga di pompa berhandle hijau.
Selisih harga inilah yang membuat sebagian orang tergoda. Namun ada dua alasan kuat untuk menahan diri: penggunaan pada kendaraan melanggar hukum, dan jika konflik dengan Iran memburuk, pasokan pemanas rumah bisa tersendat.
Minyak pemanas rumah diproduksi untuk kebutuhan pemanas, bukan untuk konsumsi kendaraan. Jika semakin banyak pemilik truk beralih memakainya, pasokan untuk rumah tangga bisa terganggu, terutama ketika cuaca dingin menuntut konsumsi lebih tinggi.
Pada akhirnya, kedekatan sifat kimia antara minyak pemanas dan solar tidak cukup menjadi alasan untuk menukar keduanya. Konsekuensi hukum dan risiko pasokan rumah tangga membuat pilihan itu tidak sepadan.