Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) El Tari menggandeng BPBD Kota Kupang menggelar Program Sekolah Tanggap Bencana di SMA Negeri 4 Kupang dengan melibatkan puluhan siswa dan guru. Pelatihan memadukan teori dan praktik, mulai dari pengenalan risiko bencana, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), teknik evakuasi, hingga respons darurat. Program ini juga mendukung penguatan sistem tanggap darurat sekolah lewat penyediaan plang jalur evakuasi, titik kumpul, dan Alat Pemadam Api Ringan (Apar).
KUPANG — Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang Ernest S. Ludji menyebut pengetahuan kebencanaan yang diperoleh peserta pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Menurut dia, materi yang diserap siswa dan guru perlu diteruskan ke lingkungan sekitar.
"Pengetahuan yang didapat hari ini diharapkan tidak hanya disimpan untuk diri sendiri, tetapi juga dapat dibagikan kepada teman-teman dan keluarga di rumah," kata Ernest di Kupang, Jumat.
Kepala SMA Negeri 4 Kupang Fransiskus Xaverius Balu Lowa menilai kesiapsiagaan jadi modal utama warga sekolah merespons keadaan darurat. Respons cepat dan tepat, menurut dia, hanya bisa terbangun kalau siswa dan guru dibekali pengetahuan memadai.
Peserta mendapatkan pembekalan soal potensi dan risiko bencana, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), teknik evakuasi, serta langkah menghadapi kondisi darurat. Kombinasi teori dan praktik membuat peserta tidak sekadar tahu risikonya, tetapi juga punya kemampuan dasar mengevakuasi diri dan memberi pertolongan pertama.
Sr. Spv. Receiving, Storage, & Distribution Pertamina Patra Niaga AFT El Tari Setyo Ariwibowo menekankan pentingnya membangun kesiapan sebelum bencana terjadi. Bencana, ujarnya, bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan.
"Bencana bisa datang tiba-tiba. Karena itu, pengetahuan dan kesiapan perlu dibangun sejak sekarang, karena dapat menjadi keterampilan yang bermanfaat bagi kita semua," kata Setyo.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi menyatakan Program Sekolah Tanggap Bencana merupakan bagian dari komitmen perusahaan memperkuat kapasitas masyarakat. Fokusnya membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan.
"Melalui Program Sekolah Tanggap Bencana, kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan. Siswa dan guru perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat," ujar Ahad.
Selain pelatihan dan simulasi, program tersebut mendukung penguatan sistem tanggap darurat sekolah. Sarana yang disediakan meliputi plang jalur evakuasi, titik kumpul, dan Alat Pemadam Api Ringan (Apar).
Sejumlah peserta juga akan dipilih menjadi bagian dari satuan tugas tanggap bencana dan perubahan iklim di lingkungan sekolah. Satgas ini dibentuk untuk mendukung keberlanjutan program setelah pelatihan selesai.
Langkah Pertamina dan BPBD Kota Kupang menyasar warga sekolah sebagai kelompok yang rentan saat bencana terjadi. Dengan pelatihan berulang dan ketersediaan jalur evakuasi yang jelas, diharapkan respons darurat di lingkungan pendidikan bisa berjalan lebih terarah.