Komunitas Transpuan Sikka Perjuangkan Perda Ramah HAM Sejak 2023, Soroti Akses Pendidikan hingga Kesehatan

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:46:01 WIB
Transpuan fasilitasi penyuluhan stunting dan kemiskinan di Balai Desa Udek Du'en, Kabupaten Sikka.

MAUMERE — Balai Desa Udek Du'en di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi ruang belajar bagi ibu-ibu pada Senin, 13 Juli 2026. Ruangan yang biasanya lengang mendadak ramai. Seorang transpuan mengenakan jaket almamater Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere berjalan mengelilingi kursi peserta dengan langkah kecil, sambil terus bertutur soal materi penyuluhan.

"Kami datang ke sini, untuk tinggal dan mengalami apa yang mama-mama rasakan," ujar Mayora membuka pembicaraan.

Mayora memfasilitasi penyuluhan tentang stunting dan kemiskinan bagi warga desa tersebut. Dua persoalan itu tengah menjadi sorotan tajam kebijakan pemerintah, baik di level nasional maupun daerah.

Empat Ibu Hamil di Udek Du'en Alami Kurang Energi Kronis

Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat 11,25 persen dari 326,57 ribu jiwa penduduk Kabupaten Sikka tergolong miskin. Persentase stunting di daerah itu sebesar 12,62 persen dari total 19.874 balita.

Di Desa Udek Du'en, empat ibu hamil mengalami kondisi kurang energi kronis (KEK) per Juli 2026. Angka itu menjadi salah satu dasar penyuluhan yang dibawakan Mayora bersama empat mahasiswa lain dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Peserta yang semula canggung perlahan mencair setelah Mayora mengajak mereka bersuara, memberi pendapat, saran, dan bertukar ide. Penyuluhan berjalan interaktif, diselipi kelakar renyah sehingga menghilangkan kesan kaku forum.

Mama Lusia Heling, salah satu peserta, tak membayangkan kegiatan penyuluhan akan berjalan hidup. Hal yang terngiang dalam ingatannya tentang penyuluhan selalu kaku dan monoton.

"Saya pikir seperti penyuluhan dari dinas, kami dengar mereka omong, tapi rasanya kaku."

Kebun Sayur 500 Meter dari Pemukiman Berlanjut Usai KKN

Suasana semakin hidup saat Mayora dan empat mahasiswa lain berbaur bersama warga membuka lahan kebun sayur pada hari berikutnya. Kebun warga berjarak 500 meter dari pemukiman itu sudah penuh gelak tawa sejak pagi.

Mama-mama dan para mahasiswa bergotong royong menggemburkan tanah, lalu membentuk bedeng. Sebagian dari mereka mencabut akar liar di sekitar bedeng sekaligus memecahkan gumpalan tanah berukuran besar. Mayora ikut dalam kelompok yang meratakan permukaan bedeng, sebelum disemaikan bibit kangkung, bayam, dan sawi.

Mereka secara bergantian menyiram sekaligus memperhatikan tumbuh kembang sayuran itu setiap pagi dan sore. KKN berjalan selama sebulan, dan Mayora kembali ke Maumere. Budidaya hortikultura tersebut tetap berjalan.

"Kami sudah panen. Mau lanjut tanam lagi," kata Lusia saat Mayora menghubunginya melalui sambungan telepon pada Senin, 5 Oktober 2026.

Rektor Unipa: Kampus Terbuka bagi Siapa Pun yang Ingin Belajar

Mayora kini kembali ke kampus dan melanjutkan masa-masa akhir perkuliahan di program studi hukum untuk menjadi pengacara.

"Saya bersyukur di Unipa, dosen-dosen begitu ramah dan terbuka terhadap saya. Saat kuliah, penampilan saya, mau penampilan apa, itu hak saya," kata Mayora.

Rektor Unipa, Jonas K.G.D. Gobang atau Gery Gobang, menyatakan kampus yang ia pimpin terbuka bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin belajar, mengembangkan diri, dan bertumbuh secara positif melalui pendidikan.

"Kami tidak melihat mahasiswa semata-mata dari latar belakang personalnya, tetapi sebagai insan yang datang ke perguruan tinggi untuk belajar, memperoleh pengetahuan dan keterampilan, membangun karakter, serta mempersiapkan dirinya untuk kehidupan dan masa depannya," kata Gery Gobang.

Perundungan di Sekolah Bikin Banyak Transpuan Berhenti Melanjutkan Pendidikan

Pengalaman di Unipa belum tentu dirasakan teman-teman transpuan lain. Perundungan di lingkungan sekolah membuat banyak dari mereka berhenti melanjutkan pendidikan. Pengalaman KKN di Desa Udek Du'en juga membuka kesadaran bahwa stunting dan kemiskinan akut menyerang mereka yang paling rentan.

Sejak 2023, Mayora dan anggota komunitasnya terlibat aktif memperjuangkan Peraturan Daerah ramah Hak Asasi Manusia yang juga menyasar kebutuhan dasar transpuan seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Komunitas Fajar Sikka bervisi menjadikan Maumere sebagai rumah yang aman untuk semua orang.

"Rumah yang aman bukan hanya tempat kita boleh tinggal, tetapi tempat setiap orang bisa mengakses haknya tanpa harus terlebih dahulu membuktikan bahwa dirinya pantas diterima," kata Mayora.

"Dan ternyata apa yang menjadi visi kami terjawab dalam proses-proses kami," sambungnya.

Dalam proses selanjutnya, pergumulan dan perjumpaan dengan banyak orang membuka pintu lain bagi perjuangan komunitas tersebut.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: ekorantt.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top