MAUMERE — Tahbisan berlangsung di tengah situasi umat yang belum sepenuhnya pulih dari bencana gempa bumi berkekuatan besar yang memorak-porandakan Flores. Provinsial SVD Ende, Pater Enan Enbu, SVD, menyebut perayaan kali ini terasa berbeda dari tahbisan imam tahun sebelumnya.
Kaul kekal pada 15 Agustus lalu dirayakan saat gempa masih menyisakan kerusakan harta benda, kehilangan rumah, hingga trauma bagi banyak warga. "Masih begitu banyak saudara-saudara kita yang kerusakan harta benda, kehilangan rumah bahkan masih merasa takut dan trauma akibat bencana tersebut," ujar Pater Eman.
Imamat yang Tidak Terpisah dari Luka Umat
Menurut Pater Eman, imamat tidak dapat dipisahkan dari penderitaan, kesulitan, dan luka umat. Seorang imam dipanggil untuk tidak jauh dari realitas kehidupan umat.
"Dalam situasi bencana seperti sekarang kita semakin memahami arti kehadiran seorang imam abdi solidaritas," katanya. Ia menegaskan imam baru ditahbiskan sebagai pelayan utama kehidupan.
Pater Eman menyebut imam tidak boleh hanya memberkati rumah-rumah yang baru dibangun. Mereka harus hadir bersama warga yang rumahnya runtuh. "Tidak boleh hanya berdiri di depan altar dan hanya berkhotbah. Juga tidak boleh hanya bersujud di ruang doa, tetapi berjalanlah bersama umat, peduli, hadir, dan bertindak," ujarnya.
Pesan Uskup Maks: Kehadiran yang Berdampak
Uskup Maks meminta 13 imam baru menjadi imam yang senantiasa hadir di tengah umat dan merasakan penderitaan mereka. Umat, katanya, mesti dilayani dengan hati dan hati-hati.
Mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus tentang makna kehadiran, Uskup Maks menegaskan kehadiran seorang imam bukan sekadar berada di tengah umat. Kehadiran berarti sungguh-sungguh hidup bersama, mendengarkan, dan mendampingi umat serta mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.
"Hadir di mana tempat seharusnya kita hadir, bukan ada di tempat yang seharusnya kita tidak perlu ada, atau ada terus di tempat yang sama. Jadi kita hadir membawa kehadiran yang berdampak," ujar Uskup kelahiran Todo Manggarai itu.
Kehadiran sebagai Jalan Menuju Kesucian
Uskup Maks menyebut kehadiran merupakan salah satu jalan menuju kesucian. Para imam yang baru ditahbiskan diharapkan menyadari tanggung jawab panggilan mereka.
Mereka diminta senantiasa hadir di tengah umat, baik dalam suka maupun duka. Mereka juga diharapkan menjadi gembala yang dekat dengan kehidupan dan kebutuhan umat.
Pater Eman menambahkan, imamat merupakan anugerah Allah. "Karena itu kita patut menaikan syukur atas anugerah istimewa ini," katanya.
Ia bersyukur karena Tuhan masih berkenan memanggil dan memilih orang-orang muda untuk menyerahkan hidup kepada-Nya dan kepada Gereja sebagai imam religius misionaris Sabda Allah.