KUPANG — Johni menegaskan kepala sekolah tidak boleh hanya berkutat pada urusan administrasi. Menurutnya, kepala sekolah harus menjadi penggerak transformasi pendidikan di lingkungan masing-masing.
Pendidikan disebut Johni sebagai investasi penting bagi masa depan NTT. Karena itu, kepala sekolah dituntut punya integritas, karakter, keberanian, kepedulian, serta kemampuan berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Servant Leadership Jadi Kunci Kepemimpinan Sekolah
Johni menekankan pentingnya servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. Jabatan, katanya, harus menjadi sarana memberi manfaat bagi orang lain, bukan sekadar status atau kedudukan.
"Orientasi seorang pemimpin harus melayani dan memberi. Kalau orientasinya melayani, pekerjaan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan karena kita hadir untuk memberikan manfaat bagi orang lain," ujar Johni.
Kepala sekolah juga diminta membangun budaya sekolah yang positif. Mereka harus mendorong inovasi, mendengarkan masukan, dan membangun komunikasi yang efektif dengan seluruh warga sekolah.
157 Peserta Tuntas Diklat dari 159 yang Diundang
Diklat BCKS Tahap I Tahun 2026 diikuti 157 orang dari 159 peserta yang diundang. Mereka mendapat pembekalan kompetensi manajerial, kepribadian, sosial, dan supervisi akademik.
Pembekalan lain mencakup praktik melalui kunjungan ke sekolah mentor hingga penyusunan proyek kepemimpinan transformatif. Rangkaian kegiatan itu dirancang membekali calon kepala sekolah sebelum dipercaya memimpin satuan pendidikan.
Johni berharap para peserta mampu menjadi pemimpin yang membawa perubahan nyata bagi sekolah. Peningkatan kualitas pembelajaran menjadi tolok ukur utama keberhasilan diklat tersebut.
Ia juga meminta para calon kepala sekolah menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama diklat ketika nantinya memimpin. Kepala sekolah bertanggung jawab memastikan guru dan siswa dapat berkembang sesuai potensi masing-masing.