JAKARTA — Sulaeman Hamzah menilai potensi sumber daya manusia Lembata tidak hanya tersebar di kampung halaman dan Nusa Tenggara Timur, tetapi juga di luar daerah, tingkat nasional, hingga mancanegara. Mereka yang dimaksud berasal dari berbagai bidang tugas, mulai dari instansi pemerintah, swasta, guru, dosen, buruh, profesional, peneliti, pengusaha, penulis, wartawan, hingga bidang sosial-keagamaan.
"Lembata menyimpan banyak orang potensial yang bisa saling mendukung dalam memajukan kampung halaman, lewotana, leu awuq. Potensi SDM ini tidak hanya menyebar di Lembata dan Nusa Tenggara Timur tetapi juga mancanegara. Ini midal sosial kita sebagai putra-putri Lembata," ujar Sulaeman Hamzah.
Peran Sulaeman Hamzah di Balik Pembentukan Kabupaten Lembata
Sulaeman Hamzah merupakan salah seorang sesepuh di tanah Papua yang berada di balik akhir perjuangan Lembata menjadi daerah otonom baru (DOB) lepas dari induknya, Kabupaten Flores Timur, tahun 1999. Keberhasilan itu disebutnya sebagai buah proses perjuangan panjang para tokoh lintas profesi yang melahirkan Statemen Tujuh Maret tahun 1954.
"Pada peringatan HUT ke-27 Otonomi Lembata tahun ini, kita semua memanjatkan puji dan syukur atas penyertaan Allah dalam seluruh kerja keras para tokoh Lembata seperti Bapak Petrus Gute Betekeneng, Stanis Lela Tufan, Bapak Mas Abdul Salam Sarabiti, Bapak Tuang Ambarak Bajaher, dan tokoh-tokoh saat itu sehingga proses panjang yang mereka rintis kita lanjutkan hingga wujudkan Lembata menjadi kabupaten definitif tahun 1999," kata Sulaeman.
Pastor Boli Ujan: Komunikasi Antar Pemangku Kepentingan Jadi Kunci
Pastor Dr Bernardus Boli Ujan, SVD, dalam misa yang dipimpinnya mengajak umat bersyukur atas berkat dan rahmat Tuhan sehingga Lembata memasuki usia otonomi ke-27 tahun 2026. Proses panjang menuju daerah otonom diakuinya sebagai buah doa dan kerja keras para tokoh pejuang yang kemudian dituntaskan generasi berikutnya.
"Saya mengajak kita semua memanjatkan doa dan syukur kita kepada Tuhan karena atas kasih-Nya, Lembata boleh merayakan HUT ke-27 tahun 2026. Perayaan syukur ini sekaligus menjadi momentum merefleksikan perjalanan daerah dan kerja keras pemerintah daerah, masyarakat, dan semua putra-putri Lembata di mana saja berada untuk ambil bagian dengan caranya masing-masing bersama pemerintah daerah memajukan lewotana, leu awuq tercinta," kata Pastor Boli Ujan, imam kelahiran Udak, Nubatukan, Lembata.
Selama 27 tahun menjadi kabupaten definitif, menurut Pastor Boli Ujan, banyak kemajuan sudah dicapai. Meski demikian, masih banyak hal yang terus dibenahi dengan kemampuan APBD, dukungan, dan kerja sama semua putra-putri Lembata di mana saja berada. Komunikasi produktif antar pemerintah, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan disebutnya sebagai aspek yang sangat penting.
"Lembata membutuhkan kerja sama semua anak tanah, baik di kampung halaman maupun yang berada di rantau. Komunikasi antara pemerintah daerah dan anak-anak Lembata di daerah maupun di tanah rantau merupakan aspek penting yang mesti menjadi perhatian. Kita semua punya kewajiban dan tanggung jawab besar memajukan tanah kelahiran," kata dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores, ini.
Petrus Bala Pattyona Soroti Peran Statemen Tujuh Maret 1954
Praktisi hukum Petrus Bala Pattyona menyebut peringatan HUT ke-27 Otonomi Lembata 2026 sebagai buah kerja keras yang dimulai para tokoh Lembata melalui Statemen Tujuh Maret Tahun 1954. Perjuangan panjang itu kemudian diteruskan para tokoh di lingkup birokrasi, politisi, guru, dan masyarakat luas melalui komunikasi produktif di tingkat lokal hingga ke pemerintah pusat.
"Kita semua bersyukur kepada Tuhan. Perjuangan panjang para tokoh dan perintis kemudian dilanjutkan putra-putri Lembata membuahkan hasil menggembirakan. Setelah moratorium daerah otonom baru dibuka pemerintah pusat, jalan lapang terbuka dan Lembata resmi menjadi daerah otonom baru. Saat ini tugas pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh elemen bahu-membahu melanjutkan kerja keras dan komunikasi produktif dengan pemerintah provinsi dan pusat sehingga Lembata semakin maju," kata Bala Pattyona.
Suzy Langotukan: Sinergi Dibutuhkan agar Lembata Bergerak Cepat
Aktivis perempuan Suzy Langotukan mengaku bersyukur perjuangan para perintis yang dilanjutkan generasi berikutnya membuahkan hasil menggembirakan. Lembata dinilainya sukses menjadi daerah otonom untuk mengurus diri sendiri dengan berpijak pada sumber daya alam yang dimiliki.
"Saat ini kita semua punya pekerjaan rumah tambahan untuk melanjutkan hasil perjuangan para pendiri. Kita semua anak Lembata punya tanggung jawab besar bersama pemerintah daerah memajukan tanah leluhur kita dengan potensi masing-masing. Namun, satu aspek penting yaitu komunikasi intensif dan sinergi agar Lembata bergerak cepat sehingga lebih maju dan warganya semakin sejahtera," kata aktivis perempuan yang kini tinggal di Palembang ini.