LABUAN BAJO — Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Manggarai Barat menilai Cakatinding punya nilai jual yang jarang dimiliki daerah lain. Alat musik bambu ini dinilai mampu menyajikan pengalaman budaya otentik bagi pelancong yang datang ke Labuan Bajo.
Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Manggarai Barat Fransiskus Selmas menyebut pengembangan Cakatinding bukan sekadar ajang nostalgia masa lalu. Menurut dia, penguatan basis kebudayaan menjadi elemen krusial bagi keberlanjutan industri pariwisata daerah.
"Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ingin merasakan pengalaman budaya yang khas. Musik bambu Manggarai adalah salah satu aset yang bisa kami tawarkan," kata Fransiskus.
Ia menegaskan pelestarian budaya Manggarai bukan soal menjaga masa lalu semata. "Melestarikan budaya Manggarai itu bukan soal menjaga masa lalu, tapi soal mempersiapkan identitas di masa yang akan datang. Membangun pariwisata tanpa budaya adalah sebuah industri tanpa jiwa," ujarnya.
Pelatihan Cakatinding Digelar untuk Pelajar SMA se-Manggarai Barat
Pemkab Manggarai Barat menggelar pelatihan Cakatinding bagi perwakilan siswa SMA se-Kabupaten Manggarai Barat. Para pelajar dibekali teknik pembuatan Cakatinding, mulai dari pemilahan jenis bambu Pering tua hingga penyetelan nada pentatonik khas Manggarai (do, re, mi, sol, la).
Pemotongan bambu dilakukan pada fase bulan mati. Melalui pembinaan generasi muda ini, Pemkab menargetkan Cakatinding kelak rutin mengisi ruang-ruang publik, kawasan destinasi wisata, serta menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah yang mampu menghidupkan perekonomian masyarakat lokal.
Dari Ladang Petani hingga Warisan Budaya Takbenda Nasional
Seni musik Cakatinding memiliki rekam jejak historis yang panjang. Para petani Manggarai dulu memainkan alat musik berbahan bambu ini di area ladang dan sawah untuk melepas penat sekaligus mengusir hewan pengganggu, seperti kera dan babi hutan.
Seiring berjalannya waktu, instrumen Cakatinding bertransformasi dari tradisi agraris menjadi seni pertunjukan yang adaptif. Alat musik tersebut kini mampu tampil mandiri maupun berkolaborasi harmonis dengan instrumen musik modern lainnya.
"Cakatinding sudah bisa berkolaborasi dengan suling, juk, gendang, gong, biola, bahkan bass gitar, gitar akustik, dan kajon. Alat ini sudah masuk dalam kelompok alat musik pertunjukan," jelas Maestro musik tradisional Manggarai, Felix Edon.
Perjalanan panjang Cakatinding di panggung seni dimulai saat dimainkan oleh Sanggar Lawe Lenggong pada dekade 1990-an. Puncaknya, alat musik ini dipagelarkan oleh 646 siswa se-Kecamatan Langke Rembong pada HUT RI 2004.
Setelah tampil di Festival Musik Bambu se-NTT 2013, Cakatinding resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 21 Oktober 2022.
Maestro Sambut Hangat Inisiatif Pemkab
Felix Edon menyambut hangat inisiatif pemerintah daerah dalam menggemakan kembali seni pertunjukan asli Manggarai. Menurut dia, langkah itu penting agar kesenian daerah tidak tergerus zaman.
"Ini upaya yang sangat baik, untuk bisa menghidupkan kembali identitas budaya lokal kita di tengah industri pariwisata yang semakin pesat," ujar Felix.
Dengan pelibatan generasi muda, Pemkab Manggarai Barat berharap Cakatinding tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Alat musik bambu ini diarahkan menjadi bagian hidup keseharian warga dan daya tarik wisata yang menghidupkan perekonomian lokal.