KUPANG — Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memastikan bahwa peran guru tetap sentral dan tidak tergantikan oleh kecerdasan artifisial (AI) di tengah derasnya arus disrupsi digital. Hal itu ia sampaikan di hadapan para pimpinan FKIP negeri se-Indonesia yang menggelar pertemuan sela di Kupang, Kamis (4/6/2026) malam.
Menurut Melki, era Society 5.0 telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia memperoleh pengetahuan dan bekerja. Dunia pendidikan, kata dia, harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi, namun nilai-nilai fundamental dalam proses belajar-mengajar tetap berada di tangan guru.
"Ke depan profesi guru tetap menjadi profesi yang penting, menarik, dan sangat dibutuhkan. Masa depan pendidikan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas para guru yang kita siapkan hari ini," tegas Melki dalam sambutannya.
Gubernur NTT menilai transformasi pendidikan bagi calon guru tidak bisa hanya dilakukan melalui penyesuaian kurikulum semata. Ia menekankan perlunya penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah — kompetensi yang menurutnya tidak bisa digantikan oleh teknologi.
"Kemampuan-kemampuan itu justru yang harus diperkuat dalam diri calon guru. AI mungkin bisa memberikan informasi, tetapi tidak bisa menggantikan peran guru dalam membentuk karakter dan cara berpikir siswa," ujar Melki.
Pertemuan sela Forum Komunikasi Pimpinan FKIP Negeri se-Indonesia itu dihadiri oleh dekan dan pimpinan fakultas keguruan dari berbagai perguruan tinggi negeri di tanah air. Agenda utama pertemuan adalah merumuskan strategi adaptasi lembaga pendidikan guru menghadapi disrupsi teknologi.
Melki berharap forum tersebut mampu menghasilkan rekomendasi konkret untuk mencetak guru-guru yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan membimbing siswa di era digital.