NUSA TENGGARA TIMUR — Pelatih John Herdman menegaskan laga kontra Oman adalah kesempatan bagi anak asuhnya untuk menulis ulang sejarah. Sejak 1988, Timnas Indonesia belum pernah merasakan kemenangan atas Oman — sebuah rekor yang ingin segera dihapuskan di hadapan pendukung sendiri.
Secara ranking FIFA, Oman jelas di atas angin. Tim tamu menempati peringkat 79 dunia, sementara Indonesia masih tertahan di posisi 122. Namun, Herdman tidak mau larut dalam kesenjangan angka tersebut.
"Ini bukan sekadar pertandingan persahabatan. Ini adalah kesempatan untuk menetapkan diri kami sebagai pesaing di AFC," ujar Herdman dalam konferensi pers di SUGBK, Kamis (4/6/2026).
Herdman mengaku telah melakukan evaluasi mendalam setelah laga kontra Bulgaria dan Saint Kitts-Nevis. Ia menyoroti satu kelemahan krusial: efektivitas di sepertiga akhir lapangan.
"Kami tidak memiliki cukup tembakan tepat sasaran mengingat seberapa besar kontrol yang kami miliki. Tidak cukup orang di dalam kotak penalti, tidak cukup penetrasi," tegas pelatih asal Inggris itu.
Masalah penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah utama yang coba diperbaiki dalam pemusatan latihan singkat pekan ini.
Herdman juga mengingatkan bahwa Oman telah menjalani pemusatan latihan selama tiga pekan penuh. Kesiapan fisik dan taktik lawan jelas lebih teruji dibanding Indonesia yang hanya punya waktu empat hingga lima hari untuk menyatukan tim.
"Membangun tim yang tangguh butuh waktu. Tapi anak-anak sudah merangkul tantangan ini minggu ini," lanjutnya.
Laga melawan Oman menjadi batu loncatan sebelum Indonesia menghadapi Mozambik pada Selasa (9/6/2026). Hasil positif di SUGBK diharapkan bisa membangun momentum dan kepercayaan diri tim jelang laga kedua.
Bagi publik sepak bola Indonesia, laga ini lebih dari sekadar FIFA Matchday. Ini adalah ujian apakah Garuda benar-benar siap bersaing di level Asia, atau masih terjebak dalam jeratan sejarah panjang tanpa kemenangan atas Oman.