NUSA TENGGARA TIMUR — Setelah bertahun-tahun dianggap lamban dalam elektrifikasi, Toyota akhirnya menuai hasil manis dari jajaran SUV listriknya. Data penjualan tiga bulan pertama 2026 menunjukkan model Toyota bZ (generasi terbaru tanpa embel-embel "4X") berhasil menjadi kendaraan listrik terlaris ketiga di AS, hanya di belakang Tesla Model 3 dan Model Y. Lebih dari 10.000 unit bZ terjual pada kuartal pertama—angka yang melampaui total penjualan seluruh lini EV Ford yang hanya 6.860 unit di periode yang sama.
Kunci kesuksesan ini ada pada penyempurnaan di titik yang paling dicari konsumen: jarak tempuh dan kemudahan pengisian daya. Toyota meningkatkan kapasitas baterai menjadi 74,7 kWh, memberikan tambahan jangkauan 25 persen menjadi 314 mil. Yang lebih krusial, model 2026 ini kini dilengkapi port pengisian NACS asli, membuka akses ke jaringan Supercharger Tesla.
Faktor harga juga bermain. Dengan banderol mulai di bawah 35.000 dolar AS (sekitar Rp 560 juta), Toyota bZ menjadi salah satu SUV listrik paling terjangkau di kelasnya. Pada Maret lalu, penjualan bulanan bZ bahkan menyentuh 2.646 unit, dua kali lipat dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.
Toyota tidak hanya mengandalkan bZ. Dua model anyar, yakni Toyota C-HR dan bZ Woodland, langsung mencatatkan penjualan perdana yang solid. C-HR, crossover sporty dengan penggerak all-wheel drive (AWD) standar dan tenaga 338 hp, berhasil menjual lebih dari 1.500 unit pada bulan perdananya. Harganya dibuka mulai 37.000 dolar AS.
Sementara itu, bZ Woodland hadir sebagai varian petualang yang lebih panjang 6 inci dari bZ standar. Dengan dual motor AWD dan mode X-MODE, SUV ini menghasilkan 75 hp lebih besar dari bZ biasa—menjadikannya Toyota EV paling bertenaga saat ini, meski jangkauannya turun menjadi 281 mil karena bobot tambahan.
Di tengah momentum positif ini, Toyota justru mengambil langkah mengejutkan dengan menghentikan proyek Lexus LF-ZC. Sedan listrik flagship yang sempat dipamerkan sebagai etalase teknologi masa depan—gigacasting, baterai generasi baru, dan platform perangkat lunak khusus—itu resmi dicoret dari peta jalan produksi.
"Kami memutuskan membatalkan proyek pengembangan LF-ZC sebagai bagian dari tinjauan perusahaan secara menyeluruh," kata juru bicara Toyota kepada Automotive News. Alasan resmi yang dikemukakan adalah fluktuasi permintaan pasar dan beban kerja perencanaan serta manufaktur kendaraan.
Keputusan ini diambil kurang dari sebulan setelah Toyota memperkenalkan Lexus TZ 2027, SUV listrik tiga baris kursi pertama untuk merek mewah tersebut. Lexus TZ akan meluncur tahun ini bersamaan dengan Toyota Highlander BEV.
Langkah Toyota mengerem proyek sedan listrik kelas atas ini membuka celah bagi kompetitor. BYD, yang sudah menjadi pemasok kendaraan listrik untuk Toyota di China dan kini berekspansi ke pasar global, terus menggerogoti pangsa pasar di Inggris, Australia, dan negara-negara utama lainnya.
Strategi "multi-pathway" Toyota yang tetap mempertahankan semua jenis powertrain—dari ICE, hybrid, plug-in hybrid, hingga fuel cell—memang memberi fleksibilitas. Namun di segmen EV murni, keputusan untuk mematikan proyek sedan flagship menunjukkan bahwa pabrikan asal Jepang ini masih enggan bertaruh penuh pada mobil listrik non-SUV. Padahal, data penjualan terbaru membuktikan bahwa ketika Toyota serius menggarap EV, pasar merespons positif.