NUSA TENGGARA TIMUR — Kepanikan melanda permukiman padat di Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, ketika getaran terasa sekitar pukul 11.27 WITA. Warga berhamburan keluar rumah dan berkumpul di tepi jalan raya, enggan kembali ke dalam bangunan karena trauma getaran susulan yang masih terasa.
Salah seorang warga, Sulistio Anggriawan, mengaku masih merasakan goyangan meski gempa utama telah berlalu. Ia sedang duduk santai di rumah saat guncangan terjadi secara tiba-tiba.
"Gempanya kuat sekali. Ini saja masih ada terasa goyang-goyang sedikit," ujarnya kepada detikSulsel.
Sulistio merasakan getaran berlangsung selama sekitar 10 detik. "Tadi sementara duduk-duduk, tiba-tiba seng bergetar. Sekitar 10 detik begitu kayaknya," katanya. Ia mengaku belum berani masuk rumah karena trauma. "Masih belum berani masuk di dalam rumah. Karena trauma juga. Kuat sekali," tambahnya.
BMKG melaporkan episenter gempa berada di koordinat 1.04 lintang selatan dan 120.23 bujur timur. Kedalaman yang hanya 10 kilometer menjadikan guncangan terasa sangat kuat di permukaan, terutama di wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG belum mengeluarkan peringatan tsunami karena pusat gempa berada di darat. Namun, warga diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang kerap menyusul gempa utama berkekuatan besar.
Kepanikan yang meluas kali ini tak lepas dari ingatan kolektif warga Palu terhadap gempa dan tsunami dahsyat 28 September 2018. Bencana yang menelan ribuan korban jiwa itu menyisakan trauma mendalam, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan pesisir dan permukiman padat seperti Nunu.
Belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa Selasa siang. Petugas BPBD Kota Palu masih melakukan pendataan dan patroli ke sejumlah titik untuk memastikan kondisi terkini.