MAUMERE — Kondisi bangunan SDI Natarita di pesisir timur Sikka ini memprihatinkan. Atap seng dan plafon ambrol, membuat ruang kelas tidak lagi layak sebagai tempat belajar. Debu vulkanik dan air hujan masuk bebas setiap kali erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki atau hujan turun.
"Kami tidak nyaman belajar di tengah sekolah rusak ini. Harapan kami pemerintah bisa perbaiki sekolah kami, sehingga kami belajar aman dan nyaman," ujar Maria Adriani Lewuk, seorang siswi SDI Natarita, Rabu (17/6/2026).
Menurut pihak sekolah, kerusakan meliputi atap dan plafon di enam ruang kelas. Pihak sekolah awalnya berupaya menutup bagian yang bocor dengan terpal. Namun, material darurat itu cepat rusak karena panas matahari, guyuran hujan, dan abu vulkanik yang terus menerpa.
Kondisi ini memaksa siswa dan guru untuk tetap belajar di bawah bayang-bayang risiko atap runtuh. Rasa takut itu sudah berlangsung lama, namun semangat belajar mengajar tidak surut.
Ironisnya, di lokasi yang sama dengan bangunan SDI Natarita yang memprihatinkan itu, berdiri satu unit dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut warga sekitar, dapur tersebut sudah dibangun sejak November 2025, namun hingga kini belum beroperasi. Dapur MBG itu tampak kontras dengan kondisi sekolah yang tambal sulam.
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka mengenai rencana perbaikan SDI Natarita. Para siswa dan guru hanya bisa berharap agar pemerintah daerah segera turun tangan, mengingat sekolah ini berada di zona terdampak langsung erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang masih aktif.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto, menyebutkan bahwa kerusakan ini merupakan dampak beruntun dari erupsi gunung di Flores Timur yang abu vulkaniknya kerap melayang hingga ke Kecamatan Talibura, Sikka.