KUPANG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menempuh jalur verifikasi data sebelum menyusun rencana pemulihan pascagempa. Tujuh kabupaten terdampak gempa Magnitudo 7,7 akan memasuki masa pemulihan selama tiga tahun setelah masa tanggap darurat berakhir.
Pemulihan itu harus berpijak pada Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) dan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Karena itu, data kerusakan dan kerugian wajib akurat serta terverifikasi.
Verifikasi Data Libatkan BAPPERIDA dan BPBD NTT
Pemprov NTT melalui BAPPERIDA dan BPBD, dengan dukungan Program Kemitraan Australia-Indonesia SIAP SIAGA, menggelar Forum Konsolidasi Data Sektoral dan Kewilayahan di Kupang, Kamis 17 September 2026. Forum itu memverifikasi data dari tujuh kabupaten terdampak.
Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan BAPPERIDA Provinsi NTT, Yohanes Paut, menegaskan R3P tidak mungkin disusun tanpa fondasi data yang kokoh. Jitupasna mencakup pengkajian akibat bencana, analisis dampak, perkiraan kebutuhan pemulihan, hingga rekomendasi awal arah kebijakan.
"Tanpa data yang akurat, R3P yang kita susun berisiko tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat terdampak," kata Yohanes.
Drone dan Geotagging Ponsel Deteksi Anomali Data
Tim data gabungan menerapkan teknologi geospasial, pemetaan udara dengan drone, dan fitur geotagging dari ponsel pintar. Visualisasi geospasial membantu mendeteksi serta mengoreksi anomali di lapangan, seperti titik koordinat fasilitas umum yang tidak presisi atau berada di luar wilayah administrasi.
Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, menyebut validitas data sebagai salah satu tantangan terbesar penyusunan R3P. Data kerugian dan kerusakan harus dapat dipertanggungjawabkan sebelum diterjemahkan menjadi rencana pembangunan.
"Ketika menyusun R3P maka mutlak harus ada data kerugian yang bisa dipertanggungjawabkan, valid, diverifikasi serta divalidasi," kata Silvia.
Menurut Silvia, tujuan akhirnya bukan sekadar mengganti apa yang hilang atau memperbaiki apa yang rusak. Prinsip pemulihan pascabencana adalah build back better, membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman. Kualitas data akan turut menentukan kualitas pemulihan yang diterima masyarakat terdampak.
Data Manggarai Timur Perlihatkan Pola Kerusakan Tak Lazim
Pakar Geographic Information System (GIS), M. Hendryanto, mengatakan visualisasi data mulai memperlihatkan pola yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Data Kabupaten Manggarai Timur menunjukkan sejumlah desa di bagian selatan mengalami dampak kerusakan tinggi, meskipun area gempa berada di bagian utara.
"Kita belum tahu apakah ini karena pengaruh faktor geologis atau ada kesalahan input data. Dengan bantuan teknologi geospasial dan geotagging, kita bisa menganalisis secara cepat dari kantor dan melihat desa-desa mana yang memang harus menjadi prioritas intervensi," ungkap Hendryanto.
Hasil verifikasi data dari tujuh kabupaten itu akan menentukan desa mana yang masuk prioritas intervensi dalam R3P. Penyusunan rencana pemulihan tiga tahun ke depan bergantung pada ketepatan data yang dikonsolidasikan di Kupang.