Akademikus Usul Pemprov NTT Perkuat Rantai Nilai Komoditas Unggulan Lewat Hilirisasi dan Ekonomi Kreatif

Penulis: Hendra Setiawan  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 04:36:31 WIB
Akademikus Subhan mengusulkan penguatan rantai nilai komoditas unggulan NTT melalui hilirisasi dan ekonomi kreatif.

KUPANG — Selama ini, sebagian besar komoditas unggulan NTT masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Nilai ekonomi yang diterima petani, nelayan, dan peternak pun belum optimal. Menurut Subhan, potensi besar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan justru membutuhkan inovasi agar menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

“Sektor pertanian dan sumber daya alam NTT memiliki potensi besar, tetapi masih membutuhkan inovasi dan keterlibatan generasi muda untuk meningkatkan nilai tambahnya,” ujar Subhan dalam kuliah umum bertajuk “Resiliensi Keuangan Daerah: Menjawab Tantangan Kebijakan Efisiensi Anggaran Melalui Alternatif Pembiayaan Kreatif”.

Strategi Penguatan Rantai Nilai

Subhan membeberkan sejumlah strategi yang bisa ditempuh Pemprov NTT. Mulai dari pembangunan infrastruktur pedesaan, pengembangan agribisnis terpadu dari hulu ke hilir, hingga peningkatan akses permodalan bagi usaha mikro. Literasi digital dan keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian juga menjadi perhatian.

“NTT perlu memperkuat rantai nilai komoditas unggulan melalui hilirisasi produk dan pengembangan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan sektor pariwisata,” tegasnya.

Program yang Sudah Berjalan

Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Ernes D. Hamel, menyebut pemerintah daerah sudah menjalankan program yang sejalan dengan usulan tersebut. Program Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual (TAPA OK JU) dan gerakan One Village One Product (OVOP) terus digencarkan.

Ernes menjelaskan, program-program itu dirancang untuk meningkatkan nilai ekonomi produk lokal sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha di desa. Pemerintah juga mengembangkan skema pembiayaan kreatif melalui program Desa Dasacita 100 Juta serta memperkuat jaringan pemasaran melalui NTT Mart.

Peluang dari Efisiensi Anggaran

Wakil Dekan I FEB Undana, Paulina Y. Amtiran, menambahkan bahwa efisiensi anggaran bukan sekadar tantangan. Menurutnya, ini menjadi peluang bagi mahasiswa dan pemerintah untuk menghadirkan inovasi pembiayaan dan pengembangan ekonomi daerah.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa efisiensi anggaran bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang untuk menghadirkan inovasi pembiayaan dan pengembangan ekonomi daerah,” ujar Paulina.

Kuliah umum ini diharapkan memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai pengelolaan keuangan daerah sekaligus mempertemukan perspektif akademik dengan praktik kebijakan pembangunan di lapangan.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top