NUSA TENGGARA TIMUR — Queiroz bukan nama asing di pentas sepak bola global. Kariernya yang membentang lebih dari tiga dekade dimulai dari bangku asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United. Dua periode ia membantu Setan Merah, pertama pada musim 2002/03 dan kembali pada 2004 hingga 2008, termasuk saat United merebut trofi Liga Champions 2007/08.
Pekerjaan Queiroz di Manchester menarik perhatian Real Madrid. Pada musim panas 2003, ia dipercaya menangani skuad galaktikos berisi Ronaldo, Zinedine Zidane, David Beckham, dan Luis Figo. Namun, musim itu berakhir pahit: Los Blancos finis keempat di La Liga, kalah di final Copa del Rey dari Real Zaragoza, dan tersingkir di perempat final Liga Champions oleh Monaco.
Kegagalan itu tak menghalangi Queiroz kembali ke Old Trafford. Di periode keduanya, ia berperan dalam transisi generasi United dari era Roy Keane ke duet Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney. Namun, hubungannya dengan Keane retak parah—salah satu faktor yang mempercepat kepergian kapten Irlandia itu dari klub.
Sejak meninggalkan United pada 2008, Queiroz fokus menangani tim nasional. Ia memimpin Portugal di Piala Dunia 2010, gugur di babak 16 besar dari juara bertahan Spanyol. Pemecatannya setelah turnamen lebih disebabkan oleh sengketanya dengan otoritas anti-doping Portugal, bukan hasil di lapangan.
Karier internasionalnya justru melejit bersama Iran. Ia membawa Tim Melli ke tiga Piala Dunia berturut-turut (2014, 2018, 2022)—prestasi langka bagi negara Asia. Setelah itu, ia menangani Kolombia, Mesir (membawa mereka ke final Piala Afrika 2021, kalah adu penalti dari Senegal), Qatar, Oman, dan kini Ghana.
Queiroz sebenarnya sudah meloloskan Afrika Selatan ke Piala Dunia 2002. Namun, ia mengundurkan diri sebelum turnamen digelar di Jepang dan Korea Selatan. Alhasil, debutnya sebagai pelatih kepala di Piala Dunia baru terjadi delapan tahun kemudian bersama Portugal.
Di usianya yang ke-73, Queiroz tetap menjadi figur kontroversial namun dihormati. Roy Keane pernah menyebutnya sebagai "pelatih yang sulit diajak bekerja sama", sementara para pemain Iran justru memujinya sebagai motivator ulung. Kini, Ghana menjadi ujian terbaru bagi pelatih yang tak pernah kehabisan cerita di lemari trofi kariernya.