JAKARTA — IHSG kembali menunjukkan tekanan pada awal sesi perdagangan Kamis (25/6/2026). Indeks dibuka turun 0,18 persen ke posisi 5.873,07, memperpanjang koreksi setelah penutupan Rabu (24/6) yang ambles 3,56 persen.
Analis memperkirakan indeks masih akan bergerak di zona merah. Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, mengatakan level support IHSG berada di rentang 5.845 hingga 5.750, sementara resistansi di kisaran 6.010 hingga 6.070.
Salah satu faktor yang membebani IHSG adalah derasnya aliran keluar modal asing. Tercatat, investor asing melakukan jual bersih (net sell) senilai Rp 1,17 triliun pada perdagangan sebelumnya.
Saham-saham dengan kapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual. BBRI, TPIA, AMMN, BMRI, dan BUMI tercatat sebagai lima emiten dengan volume jual bersih asing tertinggi, menarik perhatian pelaku pasar.
Sentimen negatif lain datang dari laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026. Peringkat daya saing Indonesia anjlok dari posisi 40 menjadi 48 dari 70 negara yang disurvei.
Pemerintah menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penurunan peringkat tersebut. Kondisi ini turut menjadi perhatian investor di pasar keuangan domestik.
Pelemahan IHSG terjadi saat mayoritas bursa saham Asia justru bergerak di zona hijau. Bursa Korea Selatan memimpin penguatan dengan melesat 3,26 persen.
"Bursa Asia rebound dari aksi jual global yang dipimpin sektor teknologi," kata Lutfi. Namun, kekhawatiran muncul bahwa rally ekuitas yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) sudah berjalan terlalu jauh dan terlalu cepat.
Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuan menjadi 1 persen pada Juni 2026, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Ringkasan rapat kebijakan terbaru menunjukkan sejumlah anggota dewan mengusulkan kenaikan suku bunga lanjutan, menjadi sinyal yang dicermati pelaku pasar global.