JAKARTA — IHSG hanya butuh kurang dari satu poin untuk menyentuh level 6.000, namun gagal pada penutupan perdagangan kemarin. Indeks parkir di angka 5.999,04 setelah menguat nyaris dua persen. Posisi ini masih jauh dari level tertinggi tahun ini yang sempat disentuh pada awal Maret 2025.
Penguatan IHSG terjadi di tengah momentum positif bursa regional. Indeks Kospi Korea Selatan dan Nikkei Jepang sama-sama menguat lebih dari 2% pada hari yang sama. Dari dalam negeri, saham-saham sektor perbankan dan konglomerasi menjadi motor utama penggerak indeks.
Para analis menilai penguatan IHSG masih bersifat terbatas karena belum diikuti oleh volume transaksi yang signifikan. “Kenaikan kemarin masih didominasi oleh aksi bargain hunting di saham-saham besar. Untuk tembus 6.000, perlu katalis baru, baik dari data ekonomi domestik maupun sentimen global,” ujar seorang analis pasar modal dalam catatannya.
Sejumlah saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo tercatat menghijau dan menjadi penopang utama indeks. Saham-saham grup konglomerasi juga ikut mendorong laju IHSG ke zona hijau sejak sesi pertama perdagangan.
Menyikapi pergerakan IHSG yang masih fluktuatif di dekat level resistance, para analis memberikan sejumlah rekomendasi saham yang bisa dicermati pelaku pasar. Saham-saham dari sektor perbankan dan konsumer disebut masih menarik dalam jangka pendek.
Pelaku pasar disarankan untuk mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan data inflasi domestik yang akan dirilis pekan depan sebagai penentu arah IHSG selanjutnya. Jika level 6.000 berhasil ditembus, potensi penguatan lanjutan menuju 6.100 terbuka lebar.