SUMBA TIMUR — Proyek strategis senilai Rp 7,2 triliun ini menempati lahan seluas lebih dari 2.000 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai tambak udang terintegrasi yang dilengkapi instalasi pengolahan limbah untuk mendukung budidaya berkelanjutan.
Project Construction Manager PT Adhi Karya Abdul Kadir mengatakan, percepatan pembangunan dilakukan untuk memenuhi target operasional awal. "Total pekerja yang terlibat, termasuk operator ekskavator, saat ini mencapai sekitar 400 orang," kata Abdul Kadir dari Sumba Timur, Selasa.
Dari total 300 unit alat berat yang dikerahkan, sebanyak 140 unit merupakan ekskavator dan 160 unit lainnya dump truck. Alat berat ini digunakan untuk pekerjaan penggalian, pemindahan material, serta pembentukan kolam budidaya.
Menariknya, hanya sekitar 30 unit alat berat yang berasal dari Pulau Sumba. Sisanya didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konstruksi. "Mobilisasi alat berat dalam jumlah besar menjadi bagian dari upaya mempercepat pekerjaan di lapangan sesuai target yang telah ditetapkan," ujar Abdul Kadir.
Hingga akhir Juni 2026, progres fisik pembangunan kawasan tambak udang modern baru mencapai 4,21 persen. Capaian tersebut meliputi pembangunan fasilitas sementara, pengerjaan kolam budidaya udang, serta pembangunan fasilitas pengolahan limbah pada klaster kawasan budidaya.
"Progres pekerjaan 4,21 persen ini terdiri atas pekerjaan fasilitas sementara, pekerjaan kolam budidaya udang, dan pekerjaan fasilitas pengolahan limbah klaster," jelas Abdul Kadir.
Pembangunan proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi udang nasional. Lebih dari itu, kawasan tambak udang modern ini diproyeksikan membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sumba Timur serta wilayah Nusa Tenggara Timur secara umum.
Keberadaan instalasi pengolahan limbah menjadi salah satu fitur utama proyek ini. Fasilitas itu dirancang agar pengelolaan budidaya udang berjalan lebih efisien dan ramah lingkungan.