Tur Pabrik Lectron di China: Bagaimana Charger EV Buatan Pabrikan Ini Jadi Andalan Ford hingga Mercedes-Benz

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 03:13:01 WIB
Proses perakitan adaptor charger EV Lectron di pabrik China menggunakan teknologi robotik presisi tinggi.

NUSA TENGGARA TIMUR — Lectron mungkin bukan nama yang familier di telinga pengguna EV di Indonesia, tapi kemungkinan besar Anda pernah menggunakan produk mereka. Perusahaan ini adalah pemasok utama adaptor J1772/CCS-to-NACS dan sebaliknya, yang menjadi jembatan pengisian daya bagi banyak mobil listrik di Amerika Serikat. Kini, Lectron meluncurkan NEXUS, charger rumah Level 2 generasi kedua, dan saya berkesempatan menyusuri pabriknya di China untuk melihat langsung proses produksinya.

Dari Rak Amazon ke Lini Produksi Pabrikan Global

Lectron memulai bisnisnya dengan menjual langsung ke konsumen lewat Amazon dan Home Depot. Kini, mereka diam-diam menjadi pemasok bagi puluhan pabrikan mobil. CEO Chris Maiwald menekankan bahwa kualitas dan keselamatan menjadi fondasi setiap tahap produksi. “Ini dimulai dari fase desain, di mana insinyur mencari potensi masalah sebelum produk masuk produksi,” ujarnya saat ditemui di pabrik.

Setelah desain, tim teknik melakukan analisis kegagalan proses untuk mengidentifikasi titik rawan di lini perakitan dan memasang pengaman. Langkah ini krusial karena sebelum logo pabrikan mobil dipasang, insinyur OEM melakukan audit ketat terhadap proses manufaktur dan pengujian Lectron. Adaptor yang tampak sederhana itu ternyata berisi sekitar 60 komponen.

Robot Kecil, Oven, dan Sertifikasi UL Berlapis

Perjalanan dimulai dari area perakitan PCB (printed circuit board) yang dikerjakan sendiri oleh Lectron. Setelah memakai perlengkapan cleanroom, saya melihat lini otomatis yang penuh dengan lengan robot dan mesin berkecepatan tinggi menempatkan komponen kecil dengan presisi. Setiap charger memiliki nomor seri unik, dan setiap langkah perakitan tercatat secara digital—termasuk seberapa kencang obeng diputar. Kamera juga memotret tata letak internal di beberapa tahap, memudahkan teknisi melacak jika ada masalah.

Setelah dirakit, charger menjalani serangkaian uji daya tahan. Saya menyaksikan unit-unit itu disemprot dengan pressure washer industri, dijemur di suhu ekstrem, dijatuhkan, dan bahkan dilindas mobil. Momen paling menarik adalah saat robot kecil mengantar charger ke dalam oven untuk uji penuaan (aging test). Semua ini untuk memastikan NEXUS yang mengantongi peringkat IP66 tahan terhadap hujan, salju, panas, dan debu selama bertahun-tahun jika dipasang di luar ruangan.

NEXUS: Charger Rumahan dengan Sensor Suhu di Setiap Pin

Lectron NEXUS kini tersedia dalam versi non-WiFi, dengan varian terkoneksi menyusul dalam beberapa bulan ke depan. Pembeli bisa memilih colokan NEMA 14-50 atau instalasi hardwired. Kedua versi memiliki sertifikasi UL 2231, UL 2251, UL 2594, dan UL 817. Model NEMA 14-50 juga dilengkapi sensor suhu di setiap pin panas sebagai langkah pengaman tambahan—penting mengingat arus 40 hingga 48 ampere mengalir dalam waktu lama.

Bagi pengguna EV di Indonesia, cerita Lectron ini menarik karena menunjukkan standar kualitas yang diadopsi oleh charger buatan pabrikan global. Meski belum masuk pasar lokal, pendekatan produksi yang ketat dan sertifikasi berlapis menjadi tolok ukur yang patut diperhatikan saat memilih perangkat pengisian daya di rumah.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top