LARANTUKA — Di Desa Bantala, Kecamatan Adonara Timur, tempurung kelapa yang dulu berserakan di kebun atau dibakar setelah diambil kopranya, kini disulap menjadi briket. Sisilia (52) dan kelompoknya, Wolosina Watoboki, yang beranggotakan 15 orang, mampu memproduksi 10 kilogram briket per hari.
"Dulu, setelah jual kopra, tempurungnya kami buang, sebagian dibakar, sebagian dibiarkan berserakan di kebun," kata Sisilia kepada Floresa, Jumat (28/6). Kini, ia mengaku briket buatannya sangat membantu menggantikan minyak tanah yang harganya kerap tidak menentu.
Perubahan ini terjadi setelah Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) memberikan pendampingan pada 2023. Program pemberdayaan itu mencakup pelatihan pengolahan limbah kelapa, teknik pembuatan kopra premium, hingga pengembangan energi terbarukan berbasis potensi lokal.
Petronela Masi Suban, anggota komunitas Langobelen Narawayo di Desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit, merasakan langsung manfaatnya. Sebelum menggunakan briket, ia menghabiskan 5 liter minyak tanah dalam empat hari. Setelah beralih ke briket, volume yang sama bisa bertahan hampir dua minggu.
"Lima liter minyak tanah biasanya habis dalam empat hari. Tetapi setelah ada briket, lima liter itu bisa bertahan hampir dua minggu," ujarnya. Di desanya, harga minyak tanah kerap melonjak dari Rp5.000 menjadi Rp7.000 per liter saat pasokan langka.
Briket yang diproduksi kelompok dampingan YPPS tidak hanya dikonsumsi sendiri. Sisilia menuturkan, sekitar dua bulan lalu kelompoknya berhasil menjual 300 kilogram briket. Pesanan datang dari Kabupaten Sikka dan sejumlah gereja di Larantuka yang menggunakan briket untuk membakar dupa saat perayaan Jumat Agung.
Di Pulau Adonara, komunitas Ina Sayang di Desa Lamabunga juga menjalankan usaha serupa. Elisabeth Bulu (70), seorang lansia yang kesulitan mencari kayu bakar, mengaku sangat terbantu. "Kayu api banyak di kebun, tetapi siapa yang pergi cari. Anak-anak punya kesibukan masing-masing," katanya.
Kelompok Langobelen Narawayo yang beranggotakan 14 perempuan mencatat semua aktivitas anggota dengan sistem tabungan. Setiap pekerjaan, seperti mengupas kelapa, dihargai dengan uang yang dikumpulkan dari penjualan kopra premium dan briket.
Samsia Lipat (24), penyandang disabilitas rungu wicara, telah tiga tahun aktif dalam kelompok. Melalui bahasa isyarat, ia menyampaikan bahwa uang hasil membuat briket disimpannya di komunitas. "Kalau butuh sesuatu yang penting, saya ambil dan gunakan," katanya pada 30 Juni.
YPPS menargetkan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur menjadi komunitas yang mandiri dan adaptif terhadap perubahan iklim. Selain pelatihan teknis, pendampingan juga mencakup penguatan kapasitas petani untuk mengidentifikasi potensi sumber daya desa dan nilai tambah dari komoditas kelapa.