KUPANG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi mempercepat pengembangan industri rumput laut dengan membentuk lima klaster budidaya terintegrasi. Langkah ini menjadi strategi utama untuk membangun ekosistem usaha dari hulu ke hilir, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini hanya menjadi pemasok bahan baku mentah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, Stefania Tunga Boro, menyatakan bahwa pengembangan klaster ini mencakup penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, penguatan kapasitas pembudidaya, hingga pengembangan industri pengolahan. "Pemerintah Provinsi NTT terus membangun ekosistem industri rumput laut yang terintegrasi melalui pengembangan lima klaster budidaya," ujarnya di Kupang, Rabu.
Selama ini, sebagian besar hasil panen rumput laut NTT hanya dijual dalam bentuk kering sebagai bahan baku. Akibatnya, nilai tambah komoditas ini justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur logistik, akses pembiayaan, standardisasi mutu, dan sertifikasi produk ekspor.
Di sektor hulu, tantangan yang dihadapi tak kalah berat. Mulai dari ketersediaan bibit unggul yang berkelanjutan, serangan penyakit ice-ice, dampak perubahan iklim terhadap kualitas perairan, hingga belum meratanya penerapan teknologi budidaya modern dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
Melalui lima klaster ini, Pemprov NTT berharap rantai pasok rumput laut bisa diperkuat. Target utamanya adalah mendorong tumbuhnya industri pengolahan di dalam daerah agar nilai tambah benar-benar dirasakan oleh pembudidaya lokal. Pengembangan ini juga diarahkan sejalan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy), sehingga peningkatan produksi tidak mengorbankan kelestarian ekosistem pesisir dan laut.
Dinas Kelautan dan Perikanan NTT bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan serta berbagai mitra pembangunan terus melakukan pendampingan intensif. Pendampingan mencakup penerapan CBIB, mulai dari pemilihan lokasi budidaya sesuai daya dukung lingkungan, penggunaan bibit berkualitas, pengaturan jarak tanam, pemeliharaan ramah lingkungan, hingga teknik panen dan penanganan pascapanen.
Stefania menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan investor terus diperkuat. Tujuannya menghadirkan inovasi teknologi budidaya yang lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.
Pemprov NTT menargetkan rumput laut tidak hanya menjadi komoditas unggulan daerah, tetapi juga motor penggerak ekonomi biru yang mampu meningkatkan daya saing, menciptakan nilai tambah, serta mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir di Nusa Tenggara Timur.