ROTE NDAO — Gubernur NTT Melki Laka Lena menyatakan pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao menjadi titik krusial untuk memperkuat swasembada garam nasional. Ia menyebut kehadiran kawasan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan.
"Kehadiran Kawasan Sentra Industri Garam Nasional ini merupakan berkat yang luar biasa bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Rote Ndao," kata Melki saat mendampingi tiga Menteri yang meninjau perkembangan pembangunan K-SIGN, di Rote Ndao, Kamis.
Tiga menteri yang turun langsung meninjau lokasi adalah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto.
Menurut Melki, kawasan industri garam modern itu akan memberikan efek berganda yang besar. Manfaatnya tidak hanya dirasakan petani garam, tetapi juga pelaku UMKM, sektor transportasi, perdagangan, dan berbagai usaha pendukung lainnya di Rote Ndao.
"Kawasan ini akan memberikan multiplier effect yang sangat besar, mulai dari membuka lapangan kerja, mendorong hilirisasi industri garam, menggerakkan ekonomi daerah, hingga memperkuat posisi NTT sebagai salah satu lumbung garam nasional," jelasnya.
Melki menjelaskan K-SIGN dikembangkan dengan konsep industri garam modern melalui sistem produksi terintegrasi. Fasilitas yang dibangun mencakup kolam penampungan air laut, pengendapan, kristalisasi, hingga gudang penyimpanan garam.
Kawasan itu diproyeksikan mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi dengan produktivitas sekitar 200 ton per hektare. Angka ini diharapkan mendukung target swasembada garam nasional yang selama ini menjadi agenda strategis pemerintah pusat.
Selain pembangunan infrastruktur industri, proyek K-SIGN juga mengedepankan pemberdayaan masyarakat melalui perekrutan tenaga kerja lokal. Pemerintah daerah dan pengelola kawasan menyelenggarakan pelatihan keterampilan bagi warga di sekitar kawasan.
Salah seorang warga Desa Matasio, Darma Pena, mengaku optimistis proyek tersebut akan membuka peluang kerja baru. "Tentunya kami senang sekali. Saat ini kami sedang mengikuti pelatihan sebelum nanti masuk kerja di sini," katanya.