KUPANG — Tumpahan oli yang mencemari pesisir Kecamatan Semau dilaporkan terus bergerak dan mengancam desa-desa lain di sekitarnya. Camat Semau, Morifali Y.E Mesakh, dalam laporan resminya ke Balai Pengelola Kelautan (BPK) Kupang menyebutkan, minyak telah terpapar di tiga desa dan berpotensi meluas ke dua desa lainnya.
Desa Hansisi, Desa Huilelot, dan Desa Uiasa menjadi wilayah yang paling awal terdampak. Sementara itu, minyak dilaporkan bergerak menuju pesisir Desa Letbaun dan Desa Batuinan.
Insiden ini bermula dari pekerjaan pengangkatan bangkai kapal MV Kuala Mas yang dilakukan PT Nusalindo di Perairan Bolok. Berdasarkan laporan sementara perusahaan, kejadian bermula pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA.
Setelah insiden, perusahaan menghentikan sementara kegiatan pengangkatan dan melakukan penanganan darurat. Langkah yang diambil antara lain memasang oil boom, menyemprotkan oil dispersant, hingga menggunakan bahan penyerap minyak.
Hasil pemeriksaan bawah air pada 30 Juli 2026 menemukan sumber masalahnya. Terdapat kebocoran minyak pada bagian bawah Cargo Hold Nomor 3 yang diduga menjadi titik keluarnya minyak ke laut.
Dampak paling serius dirasakan para pembudidaya rumput laut di Desa Huilelot. Area budidaya yang terdampak membentang di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak hingga Batuhopon dengan panjang sekitar enam kilometer.
Hingga kini, luas lahan budidaya yang mengalami kerusakan masih dalam proses pendataan oleh pemerintah kecamatan. Yang menjadi pertanyaan besar, pihak perusahaan disebut belum memberikan tanggapan terkait penanganan kerugian yang dialami para pembudidaya.
Warga bersama PT Nusalindo sebenarnya sudah melakukan pembersihan sejak 30 Juli 2026. Kegiatan penyisiran dimulai dari Dermaga Hansisi dan Pantai Kalnaok di sekitar Pelabuhan Rakyat Laazar Port, Desa Hansisi. Pembersihan kemudian dilanjutkan di sejumlah titik pantai di Desa Huilelot dan Desa Uiasa pada 31 Juli 2026, dan berlanjut hingga Sabtu (1/8).
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Balai Pengelola Kelautan Kupang, Imam Fauzi, menyatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup NTT. Ia mengakui pencemaran laut itu diduga kuat akibat aktivitas pengangkatan bangkai kapal.
"Untuk saat ini pencemaran laut itu diduga akibat pengangkatan bangkai kapal," ujar Imam Fauzi saat dihubungi di Kupang, Sabtu.
Imam menambahkan, pihaknya belum bisa memastikan sebaran pencemaran secara menyeluruh. Kekhawatiran serupa juga disampaikan PT TOM sejak Jumat (31/7) karena wilayah operasional mereka berpotensi terkena dampak yang sama.
Camat Semau dalam suratnya meminta BPK Kupang segera meninjau dan mengkaji dampak tumpahan minyak di pesisir Semau. Permintaan tersebut disampaikan melalui laporan tertanggal 31 Juli 2026, menyusul kekhawatiran kerusakan kawasan budidaya rumput laut milik masyarakat setempat.