KUPANG — Tekanan inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mereda pada Juli 2026. Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, mengungkapkan bahwa secara year on year inflasi tercatat 2,43 persen, turun drastis dari posisi Juni yang sempat menyentuh 3,56 persen.
"Secara year on year, umumnya wilayah cakupan IHK pada bulan ini kembali berada pada target inflasi tahunan pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen," ujar Matamira di Kupang, Senin.
Namun, kondisi berbeda terjadi di dua wilayah timur. Inflasi tahun kalender (year to date/ytd) di Waingapu menembus 3,07 persen, sementara Maumere lebih tinggi lagi di angka 3,52 persen—keduanya telah melampaui target tahunan yang ditetapkan pemerintah pusat.
Secara spasial, laju inflasi tahunan tertinggi tercatat di Waingapu dengan angka 3,11 persen dan IHK sebesar 113,30. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang hanya mencapai 1,82 persen dengan IHK 111,26.
Perbedaan laju inflasi ini menunjukkan disparitas harga antarwilayah yang masih cukup lebar di NTT, dipengaruhi oleh rantai distribusi dan ketersediaan pasokan komoditas di masing-masing daerah.
Kenaikan harga pada Juli 2026 didorong oleh sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,84 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,57 persen.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah emas perhiasan dengan andil mencapai 0,69 persen. Menyusul di belakangnya, bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,17 persen, diikuti pelumas atau oli mesin, tarif angkutan udara, dan bensin.
Matamira menjelaskan bahwa kenaikan harga emas perhiasan mengikuti tren harga emas dunia. Sementara itu, tarif angkutan udara meningkat karena tingginya permintaan selama musim liburan sekolah.
Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan justru menjadi penahan laju inflasi. Cabai rawit memberikan andil deflasi terbesar dengan minus 0,30 persen, diikuti biaya sekolah menengah atas minus 0,12 persen, tomat minus 0,09 persen, bawang merah minus 0,08 persen, serta sabun deterjen bubuk minus 0,04 persen.
"Penurunan harga bawang merah, cabai rawit, dan kangkung dipengaruhi pasokan yang melimpah karena memasuki masa panen," jelas Matamira.
Selain inflasi tahunan yang terkendali, NTT juga mencatat deflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Kondisi ini berbalik setelah pada Juni lalu provinsi ini mengalami inflasi bulanan 0,67 persen.
Deflasi bulanan terutama disebabkan turunnya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,65 persen dengan andil minus 0,25 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turun 0,79 persen dengan andil minus 0,05 persen.
Namun, kelompok transportasi justru menjadi penghambat deflasi dengan mencatat inflasi 1,18 persen dan andil 0,16 persen. Secara geografis, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan sebesar 0,47 persen, sementara Maumere mencatat inflasi bulanan tertinggi 0,34 persen.
Kenaikan harga sejumlah ikan seperti ikan tembang dan ikan kembung disebut dipengaruhi faktor cuaca dan angin kencang yang mengganggu aktivitas nelayan. Adapun daging ayam ras dan pelumas atau oli mesin turut menghambat laju deflasi bulanan di NTT.