KUPANG — Rangkaian kunjungan edukasi yang digelar Dinas Pendidikan Kota Kupang ini tidak hanya berhenti pada sosialisasi biasa. Pelajar usia 12–15 tahun dibekali keterampilan praktis merespons potensi ancaman, mulai dari kemampuan menolak sentuhan yang tidak nyaman hingga keberanian melapor ke orang dewasa terpercaya.
Wali Kota Kupang Christian Widodo menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak. "Kunjungan edukasi ini bukan sekadar sosialisasi rutin, melainkan langkah nyata dalam membentengi masa depan anak-anak sebagai penentu arah bangsa di masa depan," ujarnya di Kupang, Rabu.
Kepada para pelajar, Christian menyampaikan pesan kunci yang menjadi dasar konsep tersebut. "Tubuh kalian adalah milik kalian sendiri. Jika ada bagian tubuh yang disentuh dan membuat kalian merasa tidak nyaman, harus berani menolak, segera lari, dan ceritakan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya. Jangan pernah dipendam sendiri," katanya.
Pendekatan ini dirancang sederhana namun aplikatif, memberi tiga opsi tindakan berjenjang yang bisa diingat anak dalam situasi darurat. Penekanan pada "jangan memendam" menjadi krusial untuk memutus budaya diam yang kerap dialami korban kekerasan seksual.
Panitia pelaksana Yeni Aman menjelaskan bahwa pemilihan sasaran usia 12–15 tahun bukan tanpa alasan. Rentang usia tersebut merupakan periode transisi fisik, psikologis, dan sosial yang membuat anak rentan terhadap berbagai pengaruh negatif.
Kegiatan berlangsung di SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 11, SMPK Assumpta, MTs Muhammadiyah, dan SMP Adhyaksa. Materi disampaikan oleh narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Kupang, tim psikolog, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Yayasan Kita Madani Kota Kupang.
Selain pencegahan kekerasan seksual, para siswa juga menerima materi kesehatan reproduksi dan gizi remaja, kesehatan mental, serta pencegahan perundungan. Pemkot Kupang turut menyisipkan edukasi tentang bahaya pinjaman daring ilegal, judi daring, investasi bodong, dan literasi digital.
Penggabungan materi ini menunjukkan pendekatan perlindungan anak yang menyeluruh. Perlindungan tidak hanya soal fisik, tetapi juga kesehatan mental dan keselamatan finansial di ruang digital.
Yeni berharap kegiatan ini mampu membentuk pelajar yang lebih tangguh, memiliki kesadaran melindungi diri, bijak memanfaatkan teknologi, serta terhindar dari berbagai bentuk kekerasan maupun perilaku berisiko.