Dosen Undana Kupang Sebut Irigasi Tetes hingga Embung Kunci Pertanian NTT Hadapi Krisis Air

Penulis: Jauhari Lubis  •  Rabu, 23 September 2026 | 11:16:31 WIB
Dosen Undana Kupang, Roddialek Pollo, menjadi narasumber dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Rabu (23/9/2026).

KUPANG — Keterbatasan air, lahan kering, dan perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi pertanian Nusa Tenggara Timur dalam menjaga ketahanan pangan. Gempa yang merusak sejumlah jaringan irigasi di Flores Barat menambah beban, karena berpotensi memengaruhi produksi pertanian masyarakat secara keseluruhan.

Roddialek Pollo menyampaikan hal itu dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Rabu, 23 September 2026. Menurutnya, perbedaan kondisi setiap wilayah membuat teknologi yang diterapkan tidak dapat disamaratakan untuk seluruh daerah pertanian di NTT.

Teknologi Harus Ikut Karakter Wilayah, Bukan Seragam

Roddialek menegaskan bahwa masalah yang dihadapi petani di tiap kabupaten berbeda, sehingga kebutuhan teknologinya pun tidak sama. Ia menilai penyeragaman teknologi justru berisiko tidak menjawab persoalan riil di lapangan, terutama bagi petani kecil.

"Masalahnya berbeda tiap wilayah, tentu teknologi yang dibutuhkan itu berbeda-beda," ujar Roddialek Pollo.

Pendekatan itu, katanya, perlu mempertimbangkan kemampuan petani kecil di setiap daerah. Teknologi yang terlalu mahal atau rumit dikhawatirkan tidak teradopsi meski secara teknis unggul.

Irigasi Tetes dan Pertanian Presisi Hemat Air dan Pupuk

Salah satu teknologi yang dinilai relevan adalah irigasi tetes. Sistem ini menghemat air karena distribusinya diarahkan langsung ke tanaman sesuai kebutuhan pertumbuhannya secara tepat.

Selain itu, teknologi pertanian presisi dapat membantu petani menggunakan pupuk secara lebih efisien berdasarkan kebutuhan tanaman secara spesifik. Dengan begitu, pemborosan pupuk bisa ditekan sekaligus menekan biaya produksi.

Musim Hujan Surplus, Kemarau Defisit: Panen Air Jadi Kunci

Roddialek mendorong pemanfaatan teknologi panen air, termasuk embung dan cek dam yang tersedia di NTT. Menurutnya, pola musim di wilayah itu menuntut adanya penyimpanan air yang memadai.

"Musim hujan kita surplus, kemarau kita defisit, karena itu kita harus punya teknologi menyimpan air di NTT," katanya.

Embung yang sudah tersedia perlu dirawat agar fungsinya tetap optimal sebagai sumber air menghadapi kemarau berikutnya. Perawatan itu dinilai sama pentingnya dengan pembangunan embung baru.

Tanah Subur Belum Tentu Produktif

Penggunaan pupuk organik seperti kompos dan bokasi juga dinilai membantu menjaga kesuburan tanah secara biologis dan kimiawi. Roddialek menekankan pengelolaan lahan pertanian NTT harus berkelanjutan.

"Tanah subur itu tidak otomatis produktif kalau tidak diusahakan," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu mendorong mekanisasi pertanian sekaligus melibatkan pihak swasta dalam pengembangan alat mesin pertanian secara bertahap. Mekanisasi dinilai dapat meningkatkan produksi sekaligus mengurangi kehilangan hasil panen akibat keterbatasan peralatan tradisional petani NTT di lapangan.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top