KALABAHI — Ekonom Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, Ahmad Akhirul Fatoni, menyampaikan strategi tersebut di hadapan peserta Capacity Building, Kamis (15/10/2026). Ia menyoroti pentingnya mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan keunggulan geografis daerah melalui sektor produktif bernilai tambah tinggi.
Pertumbuhan ekonomi NTT tercatat 5,01 persen secara year-on-year pada triwulan II 2026. Capaian itu melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 5,32 persen.
NTT menyimpan potensi kelapa, rumput laut, garam, dan berbagai komoditas pertanian yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. Selama ini sebagian hasil produksi masih dijual ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah.
BI mendorong komoditas unggulan itu dikembangkan menjadi produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi. Rumput laut, misalnya, dapat diolah menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik.
Kelapa berpotensi dimanfaatkan dari seluruh bagian tanaman, mulai daging dan air hingga sabut, tempurung, dan kulitnya. Produk turunannya mencakup bahan baku industri, arang, serta berbagai olahan lain.
Penguatan hilirisasi diyakini bisa menaikkan pendapatan pelaku usaha, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat rantai pasok industri di NTT.
Posisi NTT yang berdekatan dengan Timor-Leste dan Australia dinilai bisa dimanfaatkan untuk memperluas hubungan dagang dengan negara tetangga. Lewat konektivitas lintas negara, NTT berpeluang membuka akses pasar bagi produk unggulannya.
Langkah itu juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi melalui pusat perdagangan domestik seperti Jawa dan Makassar. Gagasan pengembangan zona perdagangan bebas disebut telah masuk pembahasan dan kajian bersama Pemerintah Provinsi NTT.
Pembentukan kawasan itu butuh proses panjang, kajian menyeluruh, serta dukungan kebijakan dan infrastruktur. Koordinasi antarpemangku kepentingan diperlukan untuk menilai kelayakannya.
NTT memiliki potensi energi dari tenaga angin, panas bumi, dan energi laut. Potensi itu perlu dikembangkan untuk memperkuat pasokan energi bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi produktif.
Ketersediaan energi menjadi salah satu faktor penentu pengembangan industri pengolahan. Pembangunan industri membutuhkan pasokan energi memadai, selain dukungan air, infrastruktur, dan jaringan distribusi.
Pasokan energi yang andal dapat mendukung operasional industri, meningkatkan daya tarik investasi, serta memperkuat pengembangan produk turunan di dalam daerah. Pengembangan energi bersih juga membuka peluang kegiatan ekonomi baru berbasis sumber daya lokal.
Sektor pariwisata melengkapi empat sumber pertumbuhan baru yang didorong BI. Keempat sektor itu dinilai berpotensi menaikkan nilai tambah ekonomi daerah, memperluas akses pasar ekspor, menarik investasi, dan membuka peluang usaha baru bagi warga.
Pengembangannya diharapkan memperkuat struktur ekonomi NTT agar tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah. Namun, realisasi potensi tersebut membutuhkan perencanaan, investasi, dan pembangunan infrastruktur yang sesuai.