BEI Perluas Komite HSC Jadi 9 Anggota, Libatkan Investor Asing dan Akademisi

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 11:21:01 WIB
BEI memperluas Komite HSC menjadi sembilan anggota dengan melibatkan pelaku industri, akademisi, dan perwakilan investor asing.

NUSA TENGGARA TIMUR — Bursa Efek Indonesia memperluas keanggotaan Komite High Shareholding Concentration menjadi sembilan orang, dengan lima di antaranya berasal dari pihak eksternal independen. Komposisi baru mencakup pimpinan sekuritas, akademisi, ahli tata kelola, hingga perwakilan investor asing.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan komite yang sebelumnya hanya diisi perwakilan self-regulatory organization (SRO) pasar modal kini terbuka bagi pelaku industri, akademisi, dan perwakilan investor. Pengumuman disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/10).

Dari sembilan anggota, empat orang merupakan direksi SRO dan lima lainnya berasal dari luar struktur tersebut. Jeffrey menyebut penambahan pihak independen bertujuan memperkuat kredibilitas keluaran komite.

Siapa Saja Anggota Baru Komite HSC

Dua nama dari pelaku industri adalah Direktur Utama Mandiri Sekuritas Alex Widi dan Direktur Utama UBS Sekuritas Joshua Rangja. Keduanya mewakili sekuritas besar yang aktif menangani transaksi dan penjaminan emisi di pasar modal Indonesia.

Dari kalangan akademisi dan tata kelola, BEI menggaet Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) Prof Dr Mardiasmo serta Prof Dr Eduardus Tandelilin. Mardiasmo sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan dikenal luas sebagai pengampu kebijakan governansi korporasi.

Unsur investor asing diisi Chapman Taylor dari Capital Group, pengelola dana portofolio dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Kehadiran Taylor memberi komite perspektif pemodal global yang biasanya menjadi pembaca utama laporan keterbukaan emiten.

Mengapa Komite HSC Penting bagi Pemegang Saham Minoritas

Komite HSC dibentuk untuk menelaah emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, kondisi yang kerap membuat harga saham tipis likuiditas dan rentan digerakkan segelintir pemegang saham besar. Bagi investor ritel, struktur kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi berarti risiko sulit keluar posisi tanpa menekan harga.

BEI menilai keterlibatan pihak eksternal membuat proses telaah tidak lagi sepenuhnya berada di lingkaran SRO. Jeffrey menambahkan komite masih bisa menambah anggota atau mengundang narasumber independen dalam rapat mendatang sesuai kebutuhan pembahasan.

Empat Direksi SRO Duduki Kursi Komite

Empat kursi dari unsur SRO diisi perwakilan BEI, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Formasi ini mempertahankan fungsi pengawasan internal pasar modal sambil membuka ruang masukan dari luar.

Komposisi berimbang 4:5 dinilai memberi ruang diskusi yang lebih terbuka. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa jauh rekomendasi komite ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan, misalnya permintaan keterbukaan tambahan atau evaluasi terhadap emiten dengan free float rendah.

Apa Artinya bagi Pelaku Pasar

Bagi emiten, perluasan komite menandakan pengawasan atas struktur pemegang saham akan lebih ketat dan melibatkan suara investor institusi asing. Emiten dengan porsi saham publik kecil berpotensi menerima permintaan penjelasan lebih sering.

Bagi sekuritas, keterlibatan dua pimpinan perusahaan efek besar membuka jalur komunikasi langsung antara praktik pasar dan pembuat aturan. Sementara bagi investor asing, kehadiran perwakilan seperti Capital Group memberi sinyal bahwa concerns mereka soal tata kelola emiten Indonesia didengar dalam forum resmi.

“Kami harapkan dengan demikian transparansi tata kelola dan kredibilitas dari output dari komite ini akan dapat lebih baik ke depannya,” kata Jeffrey.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top