NUSA TENGGARA TIMUR — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menilai wisata gastronomi Indonesia berpeluang besar mendatangkan wisatawan mancanegara. Menurutnya, daya tarik kuliner nusantara tidak berhenti pada cita rasa, tetapi juga menyimpan sejarah, seni penyajian, dan cerita budaya yang bisa dijual sebagai pengalaman wisata. Indonesia punya modal kuat lewat rendang dan tempe yang sudah mendunia.
Chusnunia menyampaikan pandangan itu dengan merujuk keberhasilan sejumlah negara yang lebih dulu menggarap gastronomi sebagai bagian industri pariwisata. Jepang, Thailand, Prancis, Spanyol, dan Peru disebutnya sebagai contoh negara yang mampu mengubah kuliner lokal menjadi daya tarik wisata utama.
Menurut Chusnunia, wisata gastronomi tidak sekadar menjadikan kuliner sebagai tujuan perjalanan. Ada pengalaman lebih dalam yang ditawarkan, mulai dari memahami sejarah, asal-usul, seni penyajian, hingga cerita dan budaya di balik suatu hidangan.
Jepang hingga Thailand Jadi Contoh
Jepang memiliki washoku, budaya makan tradisional yang telah masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO sejak 2013. Status itu membuat washoku dikenal luas dan menjadi salah satu alasan wisatawan datang ke Jepang.
Thailand menempuh jalur berbeda lewat program Kitchen of the World. Restoran Thailand berdiri dan populer di berbagai negara, sehingga cita rasa kuliner mereka lebih dulu dikenal sebelum wisatawan datang ke negeri asalnya.
"Negara-negara tersebut berhasil mengubah kuliner lokal menjadi daya tarik wisata utama yang mendatangkan jutaan turis setiap tahunnya dan Indonesia juga tidak hanya memiliki banyak potensi wisata gastronomi yang juga menghadirkan cerita, pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal," kata Chusnunia seperti dikutip Antara, Jumat (9/10/2026).
Rendang dan Tempe Jadi Modal
Chusnunia menilai kekayaan kuliner nusantara, termasuk rendang dan tempe, merupakan modal untuk mengembangkan wisata gastronomi Indonesia. Keduanya sudah punya reputasi internasional dan kerap disebut dalam daftar kuliner terbaik dunia.
Bagi traveler yang tertarik mengejar pengalaman wisata gastronomi, sejumlah daerah di Indonesia menyimpan cerita panjang di balik hidangannya. Rendang dari Sumatera Barat, misalnya, bukan cuma soal rasa pedas dan gurih, tetapi juga proses memasak berjam-jam yang berkaitan dengan tradisi merantau masyarakat Minang.
Tempe dari Jawa memiliki jejak sejarah panjang sebagai sumber pangan lokal berbasis fermentasi. Cerita seperti ini yang menurut Chusnunia bisa dikemas menjadi pengalaman wisata, bukan hanya sajian di meja makan.
Peluang bagi Daerah
Pengembangan wisata gastronomi berpeluang membuka lapangan kerja baru bagi warga setempat. Mulai dari pemandu wisata kuliner, produsen bahan baku, hingga pelaku usaha rumahan yang menyajikan hidangan khas daerah.
Chusnunia juga menyinggung soal keberlanjutan sumber pangan lokal. Wisata gastronomi yang dikelola baik bisa mendorong petani dan produsen lokal menjaga kualitas bahan baku mereka, karena permintaan wisatawan ikut meningkat.
Untuk informasi terkini soal program wisata gastronomi di daerah tertentu, traveler bisa mengonfirmasi langsung ke dinas pariwisata setempat. Setiap kabupaten atau provinsi biasanya punya agenda festival kuliner tahunan yang bisa jadi pintu masuk menjelajahi kekayaan rasa nusantara.