Startup asal Amerika Serikat, Substrate, menargetkan produksi massal chip canggih pada 2028 menggunakan teknologi litografi sinar-X yang diklaim sepuluh kali lebih murah dari metode konvensional. Ambisi ini menjadi tantangan terbuka bagi dominasi tunggal ASML asal Belanda yang selama ini memegang kendali penuh atas rantai pasok semikonduktor global.
Industri semikonduktor global selama ini terjebak dalam ketergantungan mutlak pada satu perusahaan: ASML. Perusahaan asal Belanda tersebut merupakan satu-satunya produsen mesin Extreme Ultraviolet (EUV) yang mampu mencetak sirkuit pada skala nanometer paling mutakhir. Namun, Substrate, sebuah startup yang baru berusia empat tahun, mengeklaim telah menemukan jalan pintas untuk meruntuhkan tembok monopoli tersebut.
Berbeda dengan ASML yang menggunakan cahaya ultraviolet ekstrem, Substrate memilih jalur teknologi litografi sinar-X. Perusahaan yang berbasis di AS ini memanfaatkan akselerator partikel sebagai sumber cahaya utama untuk mencetak pola pada wafer silikon. Metode ini diklaim mampu menghasilkan performa setara mesin EUV tercanggih, namun dengan struktur biaya yang jauh lebih efisien.
James dan Oliver Proud, pendiri Substrate, menyatakan bahwa teknologi mereka memungkinkan biaya produksi wafer silikon turun hingga satu tingkat magnitudo atau sepuluh kali lipat lebih murah dibandingkan pendekatan ASML. Jika klaim ini terbukti, peta kekuatan industri chip bisa bergeser drastis, mengingat harga satu unit mesin EUV ASML saat ini bisa mencapai ratusan juta dolar.
Menanggapi ambisi tersebut, CEO ASML Christophe Fouquet menyatakan keraguan besar bahwa ada pihak yang bisa mengejar ketertinggalan teknologi dalam waktu singkat. Menurutnya, tantangan litografi bukan sekadar menghasilkan gambar, melainkan memproduksinya dalam volume besar dengan kecepatan tinggi dan presisi nanometer yang konsisten.
"Kami harus menyelesaikan satu masalah tunggal: mendapatkan cahaya ultraviolet ekstrem. Dan itu saja memakan waktu 20 tahun," tegas Fouquet dalam wawancaranya dengan TechCrunch. Ia menambahkan bahwa 80 persen teknologi ASML dibangun di atas pengetahuan yang telah dikembangkan selama puluhan tahun, sehingga memulai dari nol adalah tantangan yang sangat berat.
Substrate mengambil langkah bisnis yang tidak lazim bagi sebuah produsen peralatan litografi. Alih-alih menjual mesin produksinya kepada manufaktur chip seperti TSMC atau Intel, Substrate berencana membangun jaringan pabrik produksinya sendiri. Mereka ingin mengontrol seluruh proses dari mesin hingga menjadi produk akhir semikonduktor.
Strategi ini didukung oleh pendanaan kuat senilai lebih dari 100 juta dolar (sekitar Rp 1,6 triliun) dari investor kawakan Silicon Valley, Peter Thiel. Dengan valuasi yang sudah menembus 1 miliar dolar, Substrate kini memikul ekspektasi besar untuk menghadirkan sirkuit terintegrasi (IC) canggih pada skala besar paling lambat tahun 2028.
Munculnya Substrate tidak lepas dari konteks perang teknologi antara Amerika Serikat dan China. Washington memiliki kepentingan strategis untuk memiliki perusahaan domestik yang mampu memproduksi peralatan litografi garda depan guna mengamankan rantai pasok nasional. Selama ini, AS sangat bergantung pada teknologi Belanda dan manufaktur Taiwan untuk kebutuhan chip AI dan militer mereka.
Meski rencana Substrate terdengar sangat berani, industri masih menunggu bukti nyata berupa prototipe yang berfungsi di luar laboratorium. Sejarah industri semikonduktor mencatat banyak klaim revolusioner yang akhirnya kandas karena gagal mencapai skala ekonomi dan stabilitas produksi yang dibutuhkan pasar global.