NUSA TENGGARA TIMUR — Dalam kunjungan tersebut, Oki bersama rombongan meninjau langsung Unit Residue Catalytic Cracking (RCC) — jantung produksi Kilang Balongan. Unit ini mengubah residu minyak mentah bernilai rendah menjadi produk bernilai jual tinggi seperti petrokimia, LPG, dan Pertamax Turbo.
"Semangat One Pertamina perlu dijaga demi mempertahankan keberlangsungan bisnis Pertamina. Sinergitas ini adalah kunci mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapi," tegas Oki dalam diskusi dengan manajemen kilang dan jajaran Pertamina EP Zona 5 dan 7, serta ONWJ.
Executive General Manager Refinery Unit Balongan, Yulianto Triwibowo, mengungkapkan bahwa seluruh unit bisnis Pertamina di Indramayu telah memiliki forum komunikasi bernama ERUMORGASPOL — akronim dari Eksplorasi, Refinery Unit, Marketing Operation Region, Pertamina Gas, dan Polytama Propindo.
Forum ini rutin menggelar simulasi penanganan keadaan darurat (drill) dan berbagi praktik tata kelola HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Selain itu, mereka juga melakukan kunjungan silaturahmi ke para pemangku kepentingan perusahaan secara berkala.
Oki menegaskan setiap pekerjaan wajib mengedepankan aspek HSSE agar tidak menimbulkan kecelakaan atau pencemaran yang berdampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja maupun masyarakat sekitar.
Yulianto memastikan Kilang Balongan saat ini beroperasi normal dengan kapasitas pengolahan mencapai 150 ribu barel per hari. Angka ini menjadi salah satu indikator utama keandalan pasokan bahan bakar minyak nasional yang disokong kilang di pesisir utara Jawa Barat tersebut.
Kunjungan Wadirut Pertamina ke Balongan merupakan bagian dari pengawasan langsung terhadap aset-aset kritis perusahaan. Langkah ini juga memperkuat koordinasi lintas unit di wilayah Indramayu yang menjadi salah satu klaster bisnis terintegrasi Pertamina dari hulu hingga hilir.