JAKARTA — Sebanyak 101 sekolah dasar Katolik di bawah naungan Yayasan Sekolah Katolik Manggarai Timur (Yasukmatim) milik Keuskupan Ruteng mendapat suntikan bantuan dari para alumni Kolese Kanisius. Bantuan senilai Rp200 juta itu disalurkan untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah, alat tulis, hingga penyediaan akses air bersih di lingkungan sekolah.
Bantuan untuk Sekolah yang Berusia Lebih dari 50 Tahun
Pastor Hedwig Sunardy Nambung (Windy) dari Keuskupan Ruteng mengungkapkan, masih banyak sekolah di Manggarai Timur yang menghadapi keterbatasan parah. Ia menyebutkan, ada sekolah yang sudah berdiri lebih dari 50 tahun namun hingga kini masih kesulitan mendapatkan akses listrik dan air bersih.
"Masih ada sekolah yang sudah berdiri lebih dari 50 tahun, tapi hingga hari ini masih kesulitan listrik ataupun air. Di sisi siswa, masih ada anak-anak yang kesulitan memiliki seragam dan alat tulis. Karena itu, bantuan seperti ini sangat berarti bagi sekolah dan para siswa," ujar Pastor Windy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Semangat 'Men for and with Others' dari Angkatan 1927
Ketua Aksi Sosial CCAD 2026 Michael Wijaya Hadipoespito mengatakan, penggalangan dana ini merupakan bagian dari upaya alumni untuk memperhatikan situasi pendidikan di Indonesia Timur. "Kami mengajak alumni Kanisius dan kelompok masyarakat lain untuk lebih memperhatikan situasi pendidikan di Indonesia Timur," kata Michael.
Ketua Umum CCAD 2026 Rifan Oktavianus menambahkan, ajang CC5K tidak hanya menjadi ajang reuni bagi alumni Kolese Kanisius, sekolah yang berdiri sejak 1927. Rangkaian kegiatan CCAD 2026 juga mencakup bantuan sosial bagi penyandang disabilitas ganda di Yayasan Sayap Ibu dan program reforestasi kawasan hutan Megamendung bersama Yayasan Hutan Organik.
"Kami juga ingin memberi manfaat untuk murid-murid dan sekolah yang membutuhkan perhatian," ujar Rifan.
Yasukmatim: 101 Sekolah dengan Segudang Keterbatasan
Yayasan Sekolah Katolik Manggarai Timur (Yasukmatim) menaungi 101 sekolah dasar Katolik di Kabupaten Manggarai Timur. Banyak di antaranya masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Mulai dari kekurangan ruang kelas, alat peraga pendidikan, hingga kesulitan mengakses listrik dan air.
Donasi dari para alumni Kanisius ini diharapkan bisa meringankan beban para siswa dan sekolah yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan infrastruktur.