KUPANG — Pelatihan pembukuan, pemasaran digital, dan ekspor yang digelar Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTT dinilai sebagai langkah strategis. Menurut Rolland, kegiatan ini menyasar tiga pilar utama yang menjadi fondasi UMKM agar bisa naik kelas.
“Terkait kegiatan hari ini, ada pelatihan pembukuan, pemasaran digital, dan ekspor. Saya melihat ini sebagai langkah maju karena mencoba memperkuat tiga pilar utama yang menjadi fondasi UMKM,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undana itu di Kupang, Senin.
Rolland memerinci tiga aspek yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, pengelolaan keuangan yang melibatkan peran Bank Indonesia dalam memperkuat kapasitas pelaku UMKM. Kedua, penetrasi pasar melalui pemanfaatan teknologi digital yang didampingi para praktisi. Ketiga, ekspor yang menjadi indikator utama UMKM naik kelas.
“Pilar pertama adalah pengelolaan keuangan, di mana Bank Indonesia berperan memperkuat kapasitas pelaku UMKM dalam mengelola keuangan usaha. Pilar kedua terkait penetrasi pasar melalui pemanfaatan teknologi digital yang didampingi para praktisi. Pilar ketiga adalah ekspor yang menjadi salah satu indikator UMKM naik kelas,” jelasnya.
Dalam paparannya, Rolland menyebut Timor Leste sebagai pasar ekspor yang paling strategis dan terjangkau bagi UMKM NTT. Akses melalui pos lintas batas negara dan tingginya aktivitas perdagangan darat menjadi faktor pendukung utama.
“Namun ke depan, kita juga perlu mulai memikirkan peluang UMKM untuk ekspor ke negara lain seperti Australia. Hal itu tentu bergantung pada kesiapan produk yang dihasilkan agar memenuhi standar pasar internasional,” ujarnya.
Menurut dia, pelaku UMKM tidak bisa berjalan sendiri dalam memenuhi berbagai persyaratan ekspor. Dibutuhkan dukungan dari pemerintah, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem pendampingan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Rolland menekankan peran vital UMKM bagi perekonomian daerah. Sektor ini terbukti menjadi tulang punggung ekonomi dan paling mampu bertahan di tengah berbagai krisis.
“Peran UMKM bagi peningkatan ekonomi sangat penting karena selama ini UMKM menjadi tulang punggung perekonomian. Apalagi jika melihat bahwa UMKM merupakan sektor yang paling mampu bertahan di tengah krisis,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai kebijakan pemerintah maupun lembaga terkait, termasuk DJPb, menunjukkan bahwa peran UMKM sangat sentral sehingga diperlukan intervensi khusus untuk memperkuat sektor tersebut di NTT.
“Perlu adanya ekosistem pendampingan agar UMKM tidak berjalan sendiri dalam mencari pasar dan melakukan ekspor, tetapi berada dalam sistem yang saling mendukung sehingga mampu berkembang dan bersaing di pasar global,” pungkasnya.