Haji Isam Tunda Ekspansi, Emiten Sawit PGUN Prioritaskan Replanting Hingga 2030

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 13:42:11 WIB
Direktur Utama PGUN Jonet Budiarto menjelaskan tantangan struktur umur tanaman sawit yang tidak ideal.

NUSA TENGGARA TIMUR — Direktur Utama PGUN, Jonet Budiarto, mengungkapkan bahwa perseroan saat ini menghadapi tantangan serius dari struktur umur tanaman yang tidak ideal. Dari total lahan yang dimiliki, sekitar 45 persen merupakan tanaman tua. Bahkan, lebih dari 9.000 hektare atau sekitar 6 persen dari total kebun, sudah berusia di atas 21 tahun.

“Secara biologis, tanaman tersebut telah melewati masa produktivitas puncak yang umumnya terjadi pada usia 9 hingga 14 tahun,” jelas Jonet dalam paparan publik, Selasa (9/6).

Akibatnya, kinerja keuangan kuartal pertama tahun ini mencatatkan penurunan. Penjualan PGUN turun 5,18% secara year on year (YoY) menjadi Rp 166,5 miliar dari sebelumnya Rp 175,6 miliar. Selain faktor usia tanaman, anomali cuaca berupa curah hujan tinggi sepanjang 2024 hingga awal 2025 juga ikut mengganggu proses penyerbukan dan membuat tanaman stres.

Replanting Bertahap Jadi Andalan, Bukan Akuisisi

Alih-alih mencari lahan baru, PGUN memilih memperbaiki produktivitas dari dalam. Program replanting akan dijalankan secara bertahap hingga 2030. Saat ini, porsi tanaman muda baru sekitar 6%, sehingga belum mampu mengimbangi penurunan hasil dari blok-blok tanaman tua.

“Kami akan tetap menjalankan replanting secara bertahap hingga 2030 untuk menyeimbangkan produksi dan menjaga keberlanjutan perusahaan ke depan,” ujar Jonet.

Meski produksi tertekan, PGUN melihat angin segar dari kebijakan pemerintah yang mendorong program biodiesel B50. Jonet menilai peningkatan kebutuhan bahan baku bioenergi ini akan menjadi katalis positif bagi industri sawit, terutama dengan meningkatnya mandat pencampuran biodiesel di Indonesia, Brasil, dan India.

Capex Rp 167,6 Miliar, Sebagian untuk Bangun Fasilitas Baru

Untuk mendukung program peningkatan produktivitas, PGUN mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 167,6 miliar pada 2026. Sebagian besar, yakni Rp 119,6 miliar, dialokasikan untuk investasi tanaman. Sisanya, Rp 47,9 miliar, untuk investasi non-tanaman seperti pembangunan fasilitas, alat berat, dan inventaris kantor.

Hingga Mei 2026, realisasi capex baru mencapai 19% dari total anggaran. Dana yang sudah terpakai antara lain Rp 3 miliar untuk pembangunan fasilitas dan Rp 2,5 miliar untuk pengadaan alat berat.

Free Float Masih Minim, PGUN Siap Lepas Saham ke Publik

Di sisi pasar modal, PGUN juga tengah bersiap memenuhi aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) soal porsi saham publik (free float). Per 31 Maret 2026, free float PGUN baru mencapai 7,62%, sementara bursa mewajibkan minimal 12,5% pada Maret 2027 dan 15% pada Maret 2028.

Direktur PGUN Tamlikho menyatakan perseroan perlu menambah free float sekitar 4,88% dari total saham tercatat. Untuk itu, perusahaan tengah mengkaji sejumlah opsi, mulai dari divestasi bertahap di pasar reguler, private placement kepada investor strategis non-afiliasi, hingga secondary offering.

“Proses peningkatan free float akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas saham, serta kepentingan seluruh pemegang saham,” kata Tamlikho.

Laba Melonjak 101% di Tengah Tekanan Produksi

Meskipun produksi kuartal pertama menurun, laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan kinerja yang impresif. PGUN membukukan laba bersih Rp 159,30 miliar, melonjak 101,18% dibandingkan laba 2024 yang sebesar Rp 79,18 miliar.

Lonjakan ini ditopang oleh kenaikan penjualan bersih menjadi Rp 792,72 miliar dari Rp 738,56 miliar. Pendapatan masih didominasi penjualan minyak kelapa sawit (CPO) sebesar Rp 694,93 miliar, diikuti inti sawit Rp 96,46 miliar dan cangkang Rp 1,32 miliar. Selain itu, beban pokok penjualan justru turun menjadi Rp 515,41 miliar, dan perseroan mencatat keuntungan dari perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 17,43 miliar—pos yang tahun sebelumnya justru merugi.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top