Snap Spectacles Generasi Baru dan Chip Snapdragon XR3 Bakal Mewarnai AWE 2026, Ini Tiga Hal yang Paling Dinantikan

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 23:13:32 WIB
CEO Snap Evan Spiegel memperkenalkan generasi baru Snap Spectacles dengan desain lebih ramping di AWE 2026.

Setelah sukses menggelar edisi 2025 yang sarat inovasi, AWE 2026 hadir dengan atmosfer yang berbeda. "Sesuatu yang transformatif akan terjadi," tulis jurnalis teknologi senior Tom's Guide yang telah meliput perangkat AR/VR selama lima tahun terakhir. Keyakinan ini bukan tanpa alasan: raksasa semikonduktor Qualcomm, penguasa platform media sosial Snap Inc., hingga sederet pemain kacamata pintar seperti Xreal dan Viture dipastikan akan memamerkan lini produk terbaru mereka.

Snap Spectacles Siap Dilepas ke Pasar, Desain Diklaim Jauh Lebih Ramping

Kabar paling panas datang dari Snap. CEO Evan Spiegel dijadwalkan menyampaikan keynote bertajuk "Making Computing More Human"—sebuah isyarat bahwa proyek Spectacles yang selama ini hanya beredar di kalangan pengembang akan segera dirilis untuk publik. Pada AWE 2025 lalu, perusahaan secara resmi mengonfirmasi rencana komersialisasi produk ini pada 2026.

Yang menarik, tantangan utama Snap bukan lagi pada perangkat lunak, melainkan pada bentuk fisik. Selama setahun terakhir, tim pengembang Snap OS terus digenjot agar siap dipakai masyarakat umum. Namun, pertanyaan krusial tetap sama: bagaimana cara menyematkan daya komputasi setara smartphone ke dalam bingkai kacamata yang nyaman dipakai seharian—tanpa harus menggunakan kabel atau perangkat eksternal (puck)?

Scott Myers, mantan Wakil Presiden Divisi Hardware Snap, pernah mengungkapkan kepada Tom's Guide bahwa perangkat anyar ini akan "jauh lebih kecil" dari pendahulunya. Di AWE 2026, publik berharap bisa melihat langsung hasil kerja keras tim teknik Snap.

Qualcomm Siapkan Chip AR Generasi Ketiga, Bisa Ditenagai oleh "Project Matrix"

Di sisi pemroses, Qualcomm dipastikan tidak tinggal diam. Ziad Asghar, Senior Vice President bidang XR, akan kembali naik panggung dengan keynote berjudul "The Era of Personal AI and Endless Realities." Tahun lalu, Asghar memanfaatkan panggung AWE untuk meluncurkan chip Snapdragon AR1+ Gen 1 yang dirancang khusus untuk kecerdasan buatan (AI) lokal di kacamata pintar.

Kali ini, spekulasi mengarah pada kehadiran Snapdragon XR3—penerus dari chip XR2 Gen 2 yang sudah berusia dua tahun. Bocoran dari berbagai forum pengembang menyebutkan adanya kode "Project Matrix" yang diduga kuat menjadi nama sandi prosesor anyar ini. Jika benar, chip ini tidak hanya akan menggerakkan Snap Spectacles generasi baru, tetapi juga perangkat AR lain seperti Project Aura milik Xreal yang kabarnya akan segera meluncur.

Perang Harga Kacamata AR Makin Sengit, Viture dan Xreal Saling Kejar

Bukan hanya soal teknologi, persaingan bisnis kacamata pintar juga memanas hingga ke ranah hukum. Viture dan Xreal, dua pemain utama di segmen AR glasses, telah saling gugat dalam sengketa paten terkait inovasi bidang pandang (field of view) dan pengalaman spasial. Namun, pertempuran sesungguhnya justru terjadi di sektor harga.

RayNeo menjadi yang terdepan dengan kacamata Air 4 Pro seharga 299 dolar AS (sekitar Rp 4,8 juta). Xreal langsung merespons dengan produk X By Xreal yang dibanderol sama persis. Kini, semua mata tertuju pada Viture: akankah mereka ikut perang harga atau memilih strategi diferensiasi? "Yang penting, kita sebagai konsumen yang menang," tulis pengamat dalam laporannya. "Perusahaan-perusahaan ini saling baku hantam demi menawarkan nilai lebih besar untuk uang kita."

Di sisi lain, masa depan kacamata AI masih terbelah dua. Satu kubu mengusung agen AI serba-bisa yang menampilkan data langsung di kaca waveguide—didukung oleh kemampuan multimodal kamera. Kubu lain justru khawatir dengan potensi pelanggaran privasi, apalagi setelah Meta diam-diam menambahkan kode pengenalan wajah ke kacamata pintarnya. Vonder, misalnya, memilih pendekatan lebih sederhana dan berfokus pada privasi pengguna.

AWE 2026 akan menjadi panggung yang menentukan arah mana yang akan dipilih industri. Bagi Indonesia, percepatan ini berarti satu hal: kacamata pintar bukan lagi gawai masa depan, melainkan gadget yang akan segera bersaing di etalase toko ritel Tanah Air.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top