SMAS Bhaktyarsa Maumere Terima 300 Siswa Baru, Tak Ada Syarat Khusus dan Tak Pakai Meja Belajar

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 15:37:01 WIB
SMAS Bhaktyarsa Maumere menyambut lebih dari 300 siswa baru tanpa persyaratan khusus.

MAUMERE — Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Bhaktyarsa Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima lebih dari 300 siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Penerimaan siswa baru dilakukan tanpa persyaratan khusus.

Kepala SMAS Bhaktyarsa Maumere, Suster Marcelina Lidi, menargetkan delapan kelas terisi penuh. Jumlah maksimal siswa per kelas adalah 36 orang, sesuai Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Untuk menghemat tempat, sekolah sejak tiga tahun lalu tidak lagi menggunakan meja belajar, melainkan kursi kuliah.

Asrama Penuh, 60 Pendaftar Tahun Lalu Tak Tertampung

Pada tahun 2025, sekolah mengalami peningkatan jumlah siswa hingga 100 persen. Sebanyak 60 pendaftar tidak bisa diakomodasi meski sudah ada penambahan ruangan.

Asrama putri yang menampung siswa SMP dan SMA hanya berkapasitas 180 orang. Untuk tahun 2026, Yayasan Santu Gabriel bekerja sama dengan pihak swasta putra asli Sikka, Ense da Cunha Solapung, membangun asrama putra.

Sistem SKS dan Program Unggulan

Sejak 2016, SMAS Bhaktyarsa menerapkan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) seperti di perguruan tinggi. Siswa bisa menyelesaikan sekolah dalam dua tahun.

Sekolah juga menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015, layanan bimbingan matrikulasi dan inklusi, serta pendampingan karakter. Program unggulan lainnya meliputi pembelajaran mendalam, pendampingan penulisan artikel ilmiah untuk publikasi di jurnal, dan program pertukaran pelajar antar sekolah Karya Misi SSpS se-Asia Pasifik.

Sekolah Inklusi dan Pendekatan pada 'Anak Unik'

"Kami merupakan sekolah inklusi dan fokus pada pendidikan karakter. Kami tidak boleh menyebut anak difabel sebab dengan menyebutnya maka kita mencap seorang anak itu tidak mampu, sehingga kami menyebutkan anak-anak unik," ujar Suster Marcelina.

Sekolah menerapkan home visit agar siswa merasa memiliki orang tua asuh yang memantau. Seminggu sekali, guru-guru juga mengikuti kelas guru.

Jumlah tenaga pendidik sekitar 50 orang, dengan 12 guru berstatus ASN. Pihak sekolah tidak membedakan status guru.

Pembelajaran Bilingual dan Misa Bahasa Inggris

Mulai tahun ajaran baru, sekolah akan menerapkan pembelajaran bilingual bahasa Indonesia dan Inggris. Selama ini, misa bahasa Inggris sudah diterapkan setiap hari Jumat. Para guru juga sedang mengikuti kursus bahasa Inggris.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Suster Marcelina mengakui tantangan terbesar adalah mengelola waktu karena karakteristik setiap angkatan berbeda-beda. Ia menekankan pentingnya konsistensi setelah meraih keberhasilan.

"Kami harus bersyukur atas keberhasilan itu, tetapi tidak boleh sombong atau berpuas diri," pungkasnya.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: ekorantt.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top