Holding Logistik BUMN Resmi Terbentuk, Sembilan Perusahaan Dilebur di Bawah Pos Indonesia per Juli 2026

Penulis: Fauzan Arifin  •  Senin, 22 Juni 2026 | 18:38:31 WIB
Sembilan perusahaan logistik BUMN resmi bergabung di bawah PT Pos Indonesia mulai Juli 2026.

NUSA TENGGARA TIMUR — Rencana konsolidasi ini diumumkan Daud Joseph dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Senin (22/6/2026). Pada tahap pertama, tujuh perusahaan logistik bergabung ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI). Kepemilikan saham awal terdiri dari 73 persen Pelindo, 9 persen Pos Indonesia, dan 17 persen sisanya dimiliki lima perusahaan lainnya.

Ketujuh perusahaan itu adalah PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) di bawah Pelindo, PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni, serta PT KBN Prima Logistik (KPL) afiliasi Danareksa. Daftar itu juga mencakup PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG dan PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) dari Krakatau Steel.

"Nah ini adalah tujuh perusahaan yang di awal Juli nanti, 1 Juli, akan bergabung dalam satu perusahaan yang namanya adalah PT MTI atau Multi Terminal Indonesia," ujar Daud dalam rapat tersebut.

Dua Tambahan Baru dan Target Kepemilikan Penuh di 2027

Pada fase berikutnya, holding ini diperluas dengan masuknya dua BUMN logistik lainnya: PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Langkah ini berdasarkan surat konsolidasi dari Danantara Aset Manajemen. Dengan demikian, total sembilan BUMN logistik bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia.

Daud menegaskan, pada 2027 seluruh saham perusahaan-perusahaan tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Pos Indonesia. Integrasi ini dirancang untuk mengatasi fragmentasi jaringan distribusi yang selama ini membuat setiap BUMN hanya kuat di wilayah tertentu.

"Sehingga nanti anak perusahaan ini akan lengkap lini bisnisnya di seluruh Indonesia. Jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis," terang Daud.

Efisiensi Biaya Logistik dan Proyeksi Pendapatan Rp 2,38 Triliun

Selain perluasan jaringan, penggabungan ini menekan biaya logistik nasional. Selama ini, setiap mata rantai logistik dijalankan oleh perusahaan berbeda yang masing-masing mengambil margin keuntungan sendiri. Dengan bergabung menjadi satu entitas, profit margin hanya dihitung satu kali.

"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan," papar Daud.

Dari sisi bisnis, perusahaan gabungan ini diproyeksikan membukukan pendapatan sebesar Rp 2,38 triliun pada tahun pertama. "Dari Rp 2,38 triliun ini akan bisa menghasilkan profit di tahun ini kira-kira sebesar Rp 100 miliar," tutup Daud.

Konsolidasi ini menjadi salah satu langkah terbesar pemerintah dalam merampingkan BUMN sektor logistik, yang selama ini dikenal tumpang tindih dan kurang efisien. Dengan jaringan yang menyebar hingga 160 titik, holding ini berpotensi menjadi pemain utama logistik nasional yang mampu bersaing dengan sektor swasta.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top