KUPANG — Enam anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkonfirmasi positif terpapar radikalisme. Modus penyebarannya, menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTT, dilakukan lewat aplikasi gim dalam jaringan (online) yang diakses anak-anak.
Kepala DP3AP2KB NTT Iien Adriany mengungkapkan temuan ini pada Kamis (25/6/2026). Ia menegaskan keenam anak tersebut bukan anak nakal, melainkan korban infiltrasi paham melalui platform digital yang mereka mainkan.
"Saat ini 6 anak itu yang sudah positif terpapar. Ini diidentifikasi dari anak-anak yang terpapar itu ternyata, mereka menggunakan aplikasi gim. Jadi bukan anak yang nakal," ujar Iien.
Iien menyebutkan bahwa angka enam anak itu baru permukaan. Ia khawatir masih banyak anak lain yang terpapar namun belum terdeteksi.
"Mengapa Pak Gub sampai mengeluarkan pergub berkaitan dengan terorisme? Karena saat ini sudah ada enam anak NTT yang sudah terpapar itu (radikalisme) dan itu seperti fenomena gunung es. Jadi yang muncul itu sedikit, kami nggak tahu di bawahnya berapa banyak," jelas Iien.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena merespons temuan ini dengan menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 25 Tahun 2025. Regulasi itu secara spesifik mengatur perlindungan anak dari ancaman jaringan terorisme.
Pergub tersebut menjadi payung hukum bagi pemda untuk melakukan langkah pencegahan dan penanganan lebih lanjut. Langkah ini dinilai krusial mengingat modus penyebaran radikalisme kini menyasar kelompok usia anak melalui gim yang populer.
Iien menilai berbagai aplikasi gim bisa menjadi pintu masuk paham radikal sehingga harus diantisipasi secara serius. Anak-anak rentan terpapar saat bermain tanpa pendampingan orang tua.
DP3AP2KB NTT kemudian mulai melakukan sosialisasi ke berbagai sekolah. Tujuannya agar anak-anak tidak terpapar dan orang tua lebih waspada terhadap konten yang dikonsumsi anak saat bermain gim.
Pemprov NTT berharap langkah preventif ini mampu menekan potensi penyebaran radikalisme di kalangan anak. Sosialisasi akan diperluas ke komunitas gim dan platform digital lain yang kerap diakses anak-anak.