JAKARTA — IHSG mengawali perdagangan akhir pekan ini dengan penguatan 1,07 persen. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, level 5.806,17 merupakan posisi tertinggi sejak awal sesi pertama dibuka.
Fanny Suherman menjelaskan, pelaku pasar saat ini mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang baru dirilis. Penciptaan lapangan kerja di AS hanya mencapai 57.000 pada Juni, jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 115.000 pekerjaan baru.
“Data tenaga kerja AS yang melemah dari perkiraan menyebabkan harapan the Fed akan menahan kenaikan suku bunga,” ucap Fanny dalam risetnya, Jumat.
Di sisi lain, tingkat pengangguran AS justru turun menjadi 4,2 persen, lebih baik dari ekspektasi pasar yang sebesar 4,3 persen. Pasca rilis data tersebut, bursa Dow Jones melesat 1,14 persen dan mencatatkan all time high.
Bursa Asia justru ditutup beragam dengan mayoritas melemah pada Kamis kemarin. Bursa Korea Selatan anjlok hingga 5 persen akibat aksi jual saham-saham perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Di dalam negeri, sejumlah isu turut mempengaruhi pergerakan indeks. Salah satunya, rencana pemerintah mengembangkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) untuk menarik investasi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendapatkan mandat baru berdasarkan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Mulai 1 Januari 2027, OJK akan mengawasi bursa mineral dan komoditas strategis.
Lembaga pengawas keuangan itu juga memperoleh kewenangan tambahan, termasuk pengawasan terhadap pengelolaan dana publik di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). OJK juga kini mengatur penyisihan kekayaan aset kripto.