NUSA TENGGARA TIMUR — Badan Pusat Statistik mencatat ekspor Indonesia Agustus 2026 mencapai USD26,61 miliar, tumbuh 5,72 persen secara tahunan. Lonjakan ditopang sektor nonmigas yang menyentuh USD25,62 miliar, sementara ekspor migas justru turun.
Kinerja ekspor Agustus 2026: Badan Pusat Statistik melaporkan total nilai ekspor bulan lalu menembus USD26,61 miliar, naik 5,72 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kenaikan tahunan ini utamanya digerakkan oleh sektor nonmigas.
Nonmigas Jadi Motor Utama
Ekspor nonmigas Agustus 2026 tercatat USD25,62 miliar, melonjak 7,23 persen secara tahunan. Angka itu jauh melampaui capaian sektor migas yang hanya USD0,99 miliar dan turun 5,10 persen YoY.
"Total nilai ekspor mengalami kenaikan secara tahunan utamanya didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas," ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Artinya, hampir seluruh pertumbuhan ekspor bulan lalu bertumpu pada komoditas nonmigas, sementara migas masih menekan kinerja perdagangan secara keseluruhan.
Nikel Meledak 51,67 Persen
Penguatan nonmigas disokong akselerasi pengiriman sejumlah komoditas unggulan. Nikel dan barang daripadanya (HS 75) mencatat lonjakan 51,67 persen YoY dan memberi andil 1,84 persen terhadap total kenaikan ekspor.
Lonjakan nikel ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain utama rantai pasok global untuk bahan baku baterai dan stainless steel. Hilirisasi mineral yang digenjot sejak beberapa tahun terakhir mulai terlihat dampaknya di angka ekspor.
Selain nikel, sejumlah komoditas lain turut menyumbang pengiriman, meski BPS belum merinci kontribusi masing-masing sektor secara lengkap dalam paparan awal.
Tekanan dari Sisi Migas
Di sisi lain, ekspor migas yang menyusut 5,10 persen menjadi USD0,99 miliar menunjukkan sektor ini belum pulih. Penurunan ini bisa jadi cerminan melemahnya harga minyak mentah global atau berkurangnya volume pengiriman dari lapangan dalam negeri.
Bagi neraca perdagangan nasional, kontribusi migas yang makin kecil memperbesar ketergantungan pada nonmigas. Kondisi ini sekaligus menggarisbawahi pentingnya diversifikasi pasar dan produk ekspor ke depan.
Pemerintah sendiri terus mendorong hilirisasi sebagai strategi menaikkan nilai tambah ekspor. Capaian Agustus 2026 menjadi sinyal awal apakah strategi itu benar-benar mengerek kinerja perdagangan tahun ini.
Bagi pelaku usaha dan investor, angka ini menjadi acuan penting untuk membaca arah permintaan global terhadap komoditas Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.