JAKARTA — Bursa Efek Indonesia mencatat mayoritas indikator perdagangan saham bergerak turun sepanjang pekan tersebut. Kapitalisasi pasar sebelumnya berada di Rp11.266 triliun, kini berkurang menjadi Rp10.905 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian ikut melandai dari 1,89 juta kali menjadi 1,82 juta kali transaksi. Nilai transaksi harian turun lebih dalam lagi, yakni 21,32 persen, dari Rp15,22 triliun menjadi Rp11,98 triliun.
Di tengah tekanan itu, volume transaksi harian justru naik 2,04 persen menjadi 29,20 miliar lembar saham. Pekan sebelumnya, rata-rata volume harian tercatat 28,61 miliar lembar.
Aliran Modal Asing Belum Berbalik Arah
Investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp559,16 miliar pada akhir pekan lalu. Sepanjang 2026, akumulasi jual bersih investor asing sudah mencapai Rp77,52 triliun.
Angka itu menunjukkan tekanan keluar modal asing belum sepenuhnya mereda. Pasar masih menunggu sinyal pemulihan sebelum arus dana kembali masuk.
BEI Latih Penyandang Disabilitas Kenali Pasar Modal
Di sisi lain, BEI menjalankan program pelatihan bersama Indonesian Disability Institute (INDISI). Pelatihan bertema "Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas" berlangsung di kantor BEI dan menyasar penyandang disabilitas.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan pasar modal, pelatihan 'Siap Kerja', dan lingkungan kerja inklusif. Langkah itu bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan, kesempatan kerja, dan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
ICMS 2026 Bahas Reformasi hingga Demutualisasi Bursa
BEI juga menggelar International Capital Market Summit (ICMS) 2026 dengan tema "Restoring Global Investor Confidence through Capital Market Reform and International Best Practices". Forum itu mempertemukan regulator, perusahaan tercatat, Anggota Bursa, investor, dan pemangku kepentingan global.
Agenda pembahasan meliputi reformasi pasar modal, tata kelola, free float, dan integritas pasar. Pembahasan juga menyoroti demutualisasi bursa, pengaturan kepemilikan saham, serta penyelarasan regulasi dengan standar internasional.
Sejumlah agenda tersebut diposisikan sebagai upaya memperkuat tata kelola dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.