KUPANG — Kementerian Koperasi (Kemenkop) tengah memetakan transformasi besar bagi ekosistem koperasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Fokus utama dialihkan pada penguatan sektor produksi agar koperasi berhenti sekadar menjadi lembaga penyedia pinjaman konsumtif bagi anggotanya.
Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah menegaskan bahwa perubahan orientasi ini krusial bagi ketahanan ekonomi daerah. Kemenkop bersama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) kini menyiapkan skema agar koperasi daerah mulai merambah sektor industri.
“Kami di Kemenkop bersama LPDB sedang mendorong agar koperasi-koperasi ke depan harus lebih fokus dalam sektor-sektor produksi, sektor-sektor industri,” ujar Farida saat berdiskusi dengan pengurus Koperasi Serba Usaha (KSU) Talenta GMIT di Kupang, Sabtu (9/5).
Farida menjelaskan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mengembalikan posisi koperasi sebagai soko guru ekonomi nasional. Koperasi wajib menjadi penggerak aktif, bukan lagi sekadar pelengkap dalam struktur ekonomi daerah.
Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dalam beberapa tahun ke depan. Untuk mencapai angka tersebut, koperasi di pelosok NTT diminta sigap menangkap peluang investasi dan hilirisasi di tingkat lokal.
“Kita berharap koperasi tidak hanya sebagai objek dan penonton. Kita harus ambil peran dalam rangka ikut menumbuhkan pertumbuhan ekonomi,” tegas Farida.
Dalam kunjungannya, Wamenkop mengapresiasi masyarakat NTT yang memiliki budaya berkoperasi sangat kuat. KSU Talenta GMIT menjadi bukti nyata dengan pengelolaan aset mencapai Rp80 miliar dan dukungan 13.000 anggota.
Farida menyebut jumlah anggota yang masif merupakan modal sosial yang besar. Namun, ia mengingatkan bahwa menjaga kepercayaan anggota jauh lebih menantang daripada sekadar mendirikan badan usaha.
“Membangun dan mendirikan itu lebih mudah, tetapi menjaga kepercayaannya itu jauh lebih sulit,” tambahnya. Ketua KSU Talenta GMIT, Des Pila Padji, menyebut lembaga ini teruji tangguh melewati krisis moneter 1998 hingga hantaman pandemi Covid-19.
Saat ini, tercatat sekitar 3.000 unit koperasi beroperasi di wilayah NTT. Mayoritas lembaga tersebut masih bergerak di bidang simpan pinjam, terutama untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan anggota.
Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Yusuf Lery Rupidara, mengungkapkan rencana pemerintah daerah memperluas jangkauan ini. Terdapat target ambisius untuk membentuk ribuan unit koperasi baru di tingkat akar rumput.
“Bahkan akan ada sebanyak tujuh ribu unit Koperasi Desa Merah Putih. Ini yang nanti akan terus kita dukung dan kawal,” pungkas Yusuf.