NUSA TENGGARA TIMUR — xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, resmi memperkenalkan Grok Build pada awal pekan ini. Produk ini dideskripsikan sebagai "agen coding dan CLI (command-line interface) yang kuat untuk rekayasa perangkat lunak profesional dan pekerjaan coding kompleks." Grok Build masih dalam versi beta awal dan hanya bisa diakses oleh pelanggan SuperGrok Heavy dengan biaya langganan USD 300 per bulan atau sekitar Rp 4,95 juta (kurs Rp 16.500 per USD).
Untuk bisa mengakses Grok Build, pengguna harus berlangganan paket SuperGrok Heavy seharga USD 300 per bulan. Setelah berlangganan, pengguna dapat mengunduh versi beta dari situs resmi xAI dan masuk ke akun mereka untuk mengaktifkan alat ini.
xAI menyatakan bahwa mereka akan mengumpulkan masukan dari pengguna beta awal untuk menyempurnakan produk sebelum dirilis secara lebih luas. Langkah ini menjadi strategi xAI untuk mengejar ketertinggalan dari kompetitor seperti Anthropic dan OpenAI di bidang coding.
Di sisi lain, situasi internal perusahaan pasca merger xAI dengan SpaceX pada Februari lalu justru menunjukkan tren negatif. Menurut laporan The Information, lebih dari 50 peneliti dan insinyur telah meninggalkan perusahaan gabungan yang disebut SpaceXAI. Para karyawan yang hengkang termasuk personel kunci di divisi coding dan pelatihan AI.
Elon Musk sebelumnya mengakui bahwa perusahaannya tertinggal dari pesaing dalam hal kemampuan coding. Beberapa bulan lalu, Musk menyatakan sedang membangun ulang xAI "dari fondasi" setelah beberapa pendiri meninggalkan perusahaan. Salah satu eksekutif xAI bahkan dilaporkan memerintahkan staf untuk bekerja agar Grok bisa menyamai performa Claude di berbagai tugas.
Grok sendiri memiliki reputasi yang buruk terkait keamanan konten. Tahun lalu, model AI ini dilaporkan menghasilkan gambar seksual nonkonsensual dari orang sungguhan alih-alih memblokir pengguna yang mencoba membuat konten tersebut. Sebuah studi oleh lembaga nirlaba Inggris, Center for Countering Digital Hate (CCDH), yang diterbitkan pada Januari lalu, mengungkapkan bahwa Grok menghasilkan sekitar 3 juta gambar seksual, dan 23.000 di antaranya menampilkan anak-anak.
Menanggapi temuan tersebut, xAI telah mengubah kebijakannya untuk mencegah pengguna "mengedit gambar orang sungguhan dengan pakaian terbuka seperti bikini."
Pasca merger dengan SpaceX, xAI berencana membangun pusat data berbasis luar angkasa. SpaceX telah mengajukan aplikasi ke Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) untuk meluncurkan satelit guna mendukung proyek orbital data center tersebut. Rencana ini memungkinkan xAI memiliki infrastruktur komputasi yang tidak terikat oleh batasan geografis di Bumi.
Bagi pengguna profesional di Indonesia, Grok Build belum tersedia secara langsung karena keterbatasan akses regional dan harga langganan yang tinggi. Namun, produk ini menjadi indikasi persaingan ketat di pasar agen coding AI yang semakin memanas antara xAI, Anthropic, dan OpenAI.