NAGEKEO — Suasana riang dan pembelajaran langsung mewarnai perayaan Hari Anak Nasional di SDK Bokogo, Desa Wolowea. Alih-alih hanya lomba makan kerupuk atau balap kelereng, anak-anak mendapat kesempatan melihat proses pembuatan meja, kursi, lonceng angin, hingga sendok dari bambu.
"Saya sangat bahagia bisa mendapatkan ilmu tentang bambu, bisa melihat proses pembuatan kerajinan lonceng bambu, kursi, meja dan lain-lain," ujar Maria Stefani Dema, siswa kelas 6. Ia berharap perayaan ini mengingatkan hak anak untuk bermain, mendapat pendidikan, makanan, dan identitas.
Belajar Mengolah Bambu Bersama Instruktur Lokal
Workshop yang digagas Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melibatkan tiga instruktur dari perwakilan orang tua murid. Mereka memandu anak-anak mengamati dan sesekali mencoba membuat kerajinan bambu. Produk yang dihasilkan, seperti kotak pensil dan dulang, rencananya akan digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah.
Koordinator Kabupaten YBLL Nagekeo, Ruslan, mengatakan kegiatan ini merupakan kontribusi awal yayasan untuk memperbaiki infrastruktur sekolah di NTT. "Bambu hanyalah media. Yang terpenting anak-anak memperoleh kesempatan belajar, bermain, berkreasi, serta mengenal lingkungan dan budaya di sekitar mereka," jelasnya.
Lomba Tradisional yang Melatih Kerja Sama
Suasana semakin meriah dengan berbagai lomba edukatif. Siswa TK dan kelas 1 mengikuti lomba mewarnai, sementara siswa kelas lainnya berlomba memasukkan paku ke botol, balap kelereng, mengumpulkan karet pakai sedotan, hingga memecahkan balon secara berkelompok. Semua dirancang untuk melatih ketelitian, kerja sama, dan sportivitas.
Mengunjungi Kebun Pangan Perempuan dan Berdialog dengan "Mama Bambu"
Bagian lain dari rangkaian acara adalah kunjungan ke Kebun Pangan Perempuan yang dikelola Kelompok Delima Wolowea. Anak-anak memanen sayuran hijau, mengenal berbagai tanaman pangan, serta berdialog dengan para "Mama Bambu" tentang manfaat kebun bagi keluarga dan pentingnya konsumsi pangan lokal.
Menelusuri Sejarah Kampung: Empat Jembatan Bambu dan Tradisi Zoka
Sesi literasi budaya Wolowea menghadirkan tokoh masyarakat yang bercerita tentang empat jembatan bambu di desa serta perayaan adat Zoka—syukur atas hasil panen yang masih lestari. Anak-anak diajak berdiskusi dan meresapi nilai-nilai tradisi yang dekat dengan keseharian mereka.
Lewat rangkaian kegiatan itu, momentum Hari Anak Nasional diharapkan tidak hanya menjadi ajang kegembiraan, tetapi juga pengalaman belajar bermakna tentang budaya, lingkungan, dan potensi lokal yang hidup di sekitar anak-anak Nagekeo.