KUPANG — Ancaman krisis air di Nusa Tenggara Timur memasuki babak baru. Di tengah peringatan El Niño yang akan menghantam wilayah semi-arid ini, Pemerintah Provinsi NTT justru mengaktifkan kembali izin operasi tambang mangan PT Sumber Jaya Asia (SJA) di Kabupaten Manggarai. Perusahaan itu beroperasi di kawasan yang hanya beberapa ratus meter dari mata air Wae Mes, sumber utama air bersih dan irigasi sawah warga.
Mengapa Mata Air Wae Mes Krusial bagi Warga Manggarai?
Mata air Wae Mes bukan sekadar sumber air minum. Airnya menopang irigasi persawahan yang menjadi denyut ekonomi warga Manggarai. Sepanjang 2023-2024, pendapatan asli daerah (PAD) Manggarai masih didominasi sektor pertanian—jagung, kopi, mete—dengan kontribusi rata-rata 20-22%. Sebaliknya, sektor tambang hanya menyumbang kurang dari 10% APBD. Bahkan di era keemasan tambang mangan 2011-2014, kontribusinya tak pernah lebih dari 7%.
Izin Baru di Tengah Status Super Prioritas Kekeringan
Sejak 2021, Bappenas telah memetakan kerentanan air di NTT. Hasilnya, sembilan dari 22 kabupaten masuk kategori super prioritas, termasuk Manggarai Barat, Lembata, dan Timor Tengah Selatan. Sembilan lainnya masuk prioritas utama, seperti Ende, Flores Timur, dan Kota Kupang. Data menunjukkan 81% wilayah NTT berisiko besar mengalami kekeringan. Rekomendasi Bappenas pun jelas: rehabilitasi hutan, penyimpanan air hujan, dan konservasi sumber daya air—bukan memperbanyak tambang.
Kronologi Kembalinya Tambang Mangan ke Manggarai
PT SJA pertama kali mendapat izin dari Bupati Manggarai pada 2007. Operasinya dihentikan pada 2011 setelah digugat pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil karena diduga berada di kawasan lindung. Namun pada 2020, kewenangan izin tambang beralih ke pemerintah provinsi. Berbekal surat dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, PT SJA kembali beroperasi. NTT sendiri memiliki lebih dari 70% cadangan mangan nasional, bahan baku baterai kendaraan listrik dan panel surya.
Tambang vs Pertanian: Sektor Mana yang Lebih Menguntungkan?
Data menunjukkan ironi yang jelas. Pertanian di Manggarai dikelola oleh petani kecil dan orang lokal, menyerap banyak tenaga kerja, serta menjadi penyumbang PAD terbesar. Sementara itu, tambang mangan hanya memberikan pekerjaan bagi segelintir orang dan tidak mendongkrak ekonomi regional secara signifikan. Dengan dibukanya kembali tambang di dekat mata air, risiko kerusakan sumber air justru mengancam penghidupan puluhan ribu petani.
Pemerintah daerah dan provinsi hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai langkah mitigasi yang akan diambil untuk melindungi mata air Wae Mes. Sementara itu, warga dan organisasi masyarakat sipil di Manggarai mulai kembali menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap masa depan pasokan air di tengah musim kering yang akan datang.