JAKARTA — Sejak hari pertama kuliah di Program Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UMJ, Wilfridus Kado mengaku tidak menemukan sekat atau perlakuan berbeda karena latar belakang agamanya. Ia menyebut semua mahasiswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan diri.
“Toleransi di UMJ bukan sekadar jargon, melainkan tindakan nyata,” ujarnya, Ahad (24/5/2026).
Wilfridus menceritakan, dalam diskusi kelompok maupun penyusunan riset, yang dinilai adalah objektivitas ilmiah dan kualitas pemikiran, bukan keyakinan pribadi. Ia merasakan ruang dialog antaragama terbuka lebar dan sehat. “Perbedaan tidak dianggap sebagai pemisah, melainkan kekayaan perspektif,” tambahnya.
Ia memilih UMJ karena reputasi akademik yang terakreditasi dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman, terutama integrasi teknologi dalam pedagogi. Kampus ini, kata dia, menawarkan ekosistem yang mendukung pengembangan kompetensi digital dengan dosen-dosen yang pakar di bidangnya.
Satu-satunya tantangan yang dirasakan Wilfridus adalah adaptasi kultural terhadap istilah atau tradisi keislaman yang kerap digunakan dalam pembuka perkuliahan. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi hambatan. “Rekan-rekan mahasiswa dan para dosen sangat inklusif dan dengan senang hati menjelaskan, sehingga proses adaptasi sosial dan akademik berjalan dengan sangat alami dan cepat,” jelasnya.
Pengalaman ini, menurut Wilfridus, memperkuat keyakinannya bahwa institusi pendidikan berbasis agama Islam, khususnya kampus Muhammadiyah, mampu menjadi payung yang teduh bagi semua golongan. Ia melihat kolaborasi lintas latar belakang sebagai kunci untuk memajukan pendidikan nasional.
Selama berkuliah di UMJ, Wilfridus mengaku kapasitas berpikir strategis dan praktisnya meningkat, terutama dalam merancang ekosistem digital di sekolah. Ia belajar mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), mengelola platform learning management system (LMS), dan melakukan riset pengembangan instruksional. “Jejaring profesional dan kedewasaan cara pandang tentang keberagaman menjadi modal berharga yang saya bawa pulang ke daerah asal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai Muhammadiyah yang menekankan etos berkemajuan dan prinsip memanusiakan manusia tanpa memandang suku, ras, atau agama sangat terasa dalam interaksi sehari-hari di kampus.
Wilfridus berpesan kepada calon mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk tidak ragu memilih kampus Muhammadiyah seperti UMJ. Menurutnya, di sana mereka akan dinilai berdasarkan integritas akademik dan kontribusi pemikiran, bukan keyakinan. “Jangan pernah ragu, karena Anda akan dinilai berdasarkan integritas akademik dan kontribusi pemikiran Anda, bukan berdasarkan keyakinan Anda,” pesannya.
Ia berharap UMJ terus mempertahankan komitmennya sebagai kampus yang inklusif, humanis, dan berkemajuan, serta menjadi laboratorium toleransi yang menginspirasi kampus-kampus lain di Indonesia.